Lima Kampus Buka 33 Prodi Dokter Spesialis Baru

UNIVERSITAS Sebelas Maret menjadi lokasi peluncuran program baru Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Pendidikan Dokter Subspesialis (PPDSS) untuk kawasan Jawa Tengah–Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis, 12 Februari 2026. Acara yang berlangsung di Auditorium Fakultas Kedokteran kampus tersebut diikuti lima perguruan tinggi dan melahirkan 33 program studi anyar.

Empat universitas lain yang terlibat dalam inisiatif ini ialah Universitas Gadjah Mada atau UGM, Universitas Diponegoro, Universitas Jenderal Soedirman, serta Universitas Islam Indonesia. Program bersama tersebut disebut sebagai bagian dari upaya mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di tingkat nasional.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang juga memimpin Tim Kajian Kebijakan Pendidikan Tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Tri Hanggono Achmad, menegaskan bahwa pembukaan program studi baru tidak semata-mata menambah daya tampung mahasiswa. Menurut dia, pemerintah mengejar percepatan jumlah lulusan dokter spesialis dan subspesialis melalui kerja sama lintas kampus. Ia menyebut kolaborasi tersebut sebagai bentuk sinergi antarperguruan tinggi.

Rektor UNS, Hartono, mengatakan langkah ini diambil untuk menjawab ketimpangan sebaran dokter spesialis, khususnya di daerah terdepan, terluar, tertinggal, dan transmigrasi (4T). Ia merujuk data Kementerian Kesehatan 2025 yang menunjukkan produksi dokter spesialis baru sekitar 2.700 orang per tahun, sementara kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 32 ribu per tahun.

Dari 33 program studi yang diperkenalkan, Universitas Diponegoro membuka porsi terbesar dengan 15 program di berbagai cabang spesialis dan subspesialis, mulai dari bedah, ortopedi, jantung, hingga anestesiologi. Universitas Gadjah Mada menambah enam program, di antaranya subspesialis jantung, forensik, patologi, pulmonologi, dan rehabilitasi medik. UNS menghadirkan 10 program baru yang mencakup bedah plastik, bedah toraks, oftalmologi, kedokteran keluarga layanan primer, serta gizi klinik. Sementara Universitas Jenderal Soedirman dan Universitas Islam Indonesia masing-masing membuka program di bidang patologi anatomi dan patologi klinik.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang hadir dalam peluncuran tersebut menilai kebutuhan layanan dokter spesialis di daerah masih besar. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kata dia, telah menjalankan program Spesialis Keliling untuk menjangkau wilayah terpencil dengan dukungan kendaraan medis dan rumah sakit daerah. Ia menyoroti bahwa selama ini dokter spesialis lebih banyak terkonsentrasi di perkotaan sehingga warga desa belum merasakan layanan secara merata.

Ia berharap penambahan puluhan program studi ini bisa mempercepat pemerataan tenaga dokter spesialis di Jawa Tengah dan DIY. Kolaborasi pemerintah daerah dan perguruan tinggi dinilai penting agar peningkatan jumlah lulusan berjalan seiring dengan mutu pendidikan dan kompetensi profesional.

  • Related Posts

    Berita Terkini, Berita Hari Ini Indonesia dan Dunia | tempo.co

    Asas jurnalisme kami bukan jurnalisme yang memihak satu golongan. Kami percaya kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya tugas pers bukan menyebarkan prasangka, justru melenyapkannya, bukan membenihkan…

    Polda Banten Targetkan Bangun 76 SPPG, Penerima Manfaat 228.313 Orang

    Jakarta – Polda Banten menargetkan membangun 76 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Polri di wilayah hukumnya. Jumlah tersebut akan memenuhi 228.313 penerima manfaat. Polda Banten menggelar groundbreaking SPPG Tatag Trawang…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *