KETUA Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Tiyo Ardianto mendapatkan teror setelah memprotes pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang gagal menjamin hak dasar anak karena tragedi seorang anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur. Tiyo mendapatkan pesan WhatsApp bernada ancaman dari nomor dengan kode Inggris.
Teror terhadap Ketua BEM UGM ini bukan yang pertama. Catatan Tempo, Ketua BEM UGM juga mendapatkan teror ketika mengkritik UU TNI dan mantan Presiden Jokowi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Berikut beberapa teror yang pernah dialami Ketua BEM UGM:
Diteror usai Beri Gelar Jokowi sebagai alumni UGM paling memalukan
Pada 2023, Ketua BEM UGM kala itu Gielbran Muhammad Noor mendapat rentetan teror usai mengkritik pemerintahan Jokowi dan mendapuk sosok kepala negara itu sebagai alumni UGM paling memalukan. Salah satu bentuk intimidasi yang dialaminya adalah fakultasnya didatangi intelijen. Telik sandi itu disebut meminta biodata Gielbran di dekanat.
“Karena tidak bawa izin, oleh dekanat biodata saya itu juga tidak diberikan,” kata Gielbran pada Jumat, 15 Desember 2023.
Bentuk teror atau intimidasi lain yang terpantau olehnya langsung adalah doksing terhadap keluarganya melalui media sosial. Selain itu, ada selebaran poster yang menyudutkan Gielbran bernarasi aksinya ditunggangi kepentingan politik. Poster itu beredar di sebuah kawasan Kabupaten Sleman.
Isi poster tersebut menuding orang tua Gielbran adalah calon legislatif atau caleg partai politik yang berseberangan dengan pemerintahan Jokowi. Gielbran pun menegaskan orang tuanya tidak terafiliasi dengan partai apa pun. Namun pihaknya memilih bersikap santai dengan isu yang dihembuskan anonim itu. Dia menyayangkan aksi intimidasi seperti itu. “Intimidasi itu tidak akan membuat kami takut bersuara,” kata Gielbran.
Diteror usai aksi tolak UU TNI
Pada 20 Maret 2025, Ketua BEM UGM kala itu, Tiyo Ardianto mendapatkan berbagai bentuk teror dan intimidasi selepas aksi tolak UU TNI di Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis lalu, 20 Maret 2025.
Tiyo sapaan akrabnya bercerita bahwa intimidasi tersebut menyerang secara psikis. Salah satu bentuknya adalah spanduk yang dipasang di parkiran Abu Bakar Ali, lokasi berkumpulnya massa aksi saat itu. Spanduk tersebut bertuliskan “Awas Gerakan Mahasiswa Disusupi Antek Asing” dengan jenis huruf menyerupai font horor atau berdarah. Selain itu, spanduk tersebut menampilkan gambar empat orang, salah satunya adalah Tiyo Ardianto.
Tak hanya itu, ia mengaku menerima ancaman teror. Jika terus menggelar aksi protes, keselamatan orang tuanya akan dipertaruhkan. Meski demikian, Tiyo menegaskan bahwa ia tidak akan gentar dan akan terus bergerak menentang kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.
Diteror usai kritik Prabowo soal insiden siswa bunuh diri di NTT
Tahun ini, Tiyo mengalami teror usai mengkritik Prabowo soal insiden murid bunuh diri di NTT. Dia menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor dengan kode Inggris empat hari setelah BEM mengkritik Prabowo. Selain ancaman penculikan, peneror mengirimkan pesan yang menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.
Menurut Tiyo, selain menerima ancaman dalam bentuk pesan, dia dikuntit dua orang saat berada di sebuah kedai. Penguntitan itu terjadi sehari setelah muncul ancaman. “Mereka memotret dan bergegas pergi,” kata Tiyo saat dihubungi pada Kamis, 12 Februari 2026.





