Putri Zulhas Bicara Potensi Cadangan Panas Bumi di Indonesia

Jakarta

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan, berbicara soal cadangan energi panas bumi atau geotermal di Indonesia. Ia menyebut cadangan energi panas bumi di RI berkisar di 23 ribu megawatt, tetapi belum dimanfaatkan dengan optimal.

“Lagi-lagi nih, Indonesia itu ternyata salah satu negara yang memiliki cadangan panas bumi terbesar. Kalau saya tidak salah, ini karena bicara data, sekitar 23 ribu megawatt. Cadangan kita. Salah satu yang terbesar. Tetapi dari 23 ribu sekian megawatt tersebut, yang digunakan baru 2.700 megawatt,” kata Putri Zulhas dalam program wawancara ‘Eksklusif Update’ dengan detikcom, Kamis (12/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Putri Zulhas mengatakan Indonesia baru menggunakan 12 persen dari potensi cadangan energi yang dimiliki. Ia kemudian merincikan sejumlah tantangan yang dihadapi terkait energi panas bumi ini.

“Yang pertama adalah tantangannya terkait dengan nilai investasinya yang memang cukup besar. Bukan hanya nilai investasinya yang besar, tapi di situ juga ada resiko yang nggak kalah besar. Karena kalau kita mau tahu ada berapa cadangan panas bumi di suatu lokasi, kita harus melakukan pengeboran eksplorasi dulu,” ujar Ketua Fraksi PAN DPR RI ini.

“Nah, kalau eksplorasinya gagal, itu menjadi salah satu risiko dari pengusaha tersebut. Jadi mungkin itu yang menyebabkan investor akhirnya banyak yang maju dan mundur. Yang kedua juga tantangannya ada pada regulasi. Jadi kebanyakan dari pembangkit listrik tenaga panas bumi itu ada di kawasan hutan,” tambahnya.

Ia berharap nantinya ada regulasi yang lebih transparan dalam memanfaatkan energi panas bumi itu. Putri berharap pemanfaatan geothermal mampu menjadi salah satu investasi yang dimiliki RI.

“Itu kan di tengah kawasan hutan, malah hutan lindung. Jadi perizinannya itu lintas kementerian. Ada kementerian kehutanan, lingkungan, SDM, dan sebagainya. Sehingga memang lingkungan harmonisasi, regulasi yang lebih cepat, lebih transparan, lebih akuntabel itu benar-benar diperlukan. Dan ada juga sebetulnya tantangan mengenai infrastruktur listrik kita sendiri,” kata Putri.

“Jadi ada juga case-case di mana misalnya dikatakan di lokasi A itu ada sumber energi panas bumi tersebut. Tetapi jaringan transmisi listriknya belum ada. Nah, inilah makanya RUPTL itu 2026-2034 itu nanti akan ada pembangunan infrastruktur kelistrikan sejauh 48 ribu km. Investasi lagi besar lagi. Diharapkan nanti bisa mendukung salah satunya untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi,” imbuhnya.

(dwr/dhn)

  • Related Posts

    Dosen UGM Kritik Respons Seskab Teddy Soal Laporan Tempo

    GURU Besar Jurnalisme Universitas Gadjah Mada atau UGM Prof. Dr. Ana Nadhya Abrar menilai respons pemerintah melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya terhadap laporan utama Majalah Tempo edisi 1 Februari…

    Operasi Pekat 2026, Polda Metro Sita 347 Kg Narkoba-Tangkap 1.280 Tersangka

    Jakarta – Operasi Pekat Jaya 2026 Polda Metro Jaya telah terlaksana selama 15 hari mulai 28 Januari hingga 11 Februari 2026. Polda Metro berhasil menyita 347,94 kilogram narkoba berbagai jenis.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *