Indonesia mendadak jadi sorotan dunia. Media-media asing melaporkan langkah pemerintah Indonesia akan mengirimkan ribuan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Gaza, Palestina.
Tak hanya karena itu, Indonesia pun tak luput dari perhatian global lantaran menjadi negara pertama yang akan mendaratkan pasukannya ke wilayah konflik tersebut. Sekitar 5.000-8.000 personel akan dikirim untuk bertugas sebagai pasukan perdamaian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
TNI AD Siapkan Pasukan
Mulanya, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menyatakan bahwa TNI AD telah mulai menyiapkan pasukan untuk misi perdamaian di Gaza. Persiapan dilakukan sambil menunggu hasil koordinasi resmi dari Mabes TNI terkait kebutuhan dan karakter personel yang akan ditugaskan.
KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. (Ondang/detikcom)
Maruli menjelaskan, proses pengiriman pasukan ke Gaza masih berjalan dan memerlukan koordinasi berjenjang, mulai pihak yang mengoordinasikan misi di Gaza hingga ke Mabes TNI dan Mabes Angkatan Darat.
“Ya, itu kan masih terus berjalan ya. Jadi kan kami menunggu dari hasil koordinasi yang mengoordinir di Gaza. Nanti ke Mabes TNI. Mabes TNI nanti ke Mabes AD memerlukan pasukan personel yang berkarakter apa. Ini kami siapkan. Ya, begitu,” kata Maruli di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Ia menegaskan TNI AD telah memulai persiapan internal dengan melatih personel yang ditugaskan dalam misi perdamaian. Fokus utama diarahkan pada kemampuan yang relevan dengan kebutuhan kemanusiaan dan rekonstruksi di wilayah konflik.
“Sudah, sudah mulai berlatih orang-orang yang kemungkinan kan kita nanti jadi perdamaian. Jadi berarti (korps) zeni, kesehatan, yang sering seperti itu (bertugas pasukan perdamaian), kami siapkan,” jelasnya.
Maruli menekankan peran TNI AD saat ini terbatas pada persiapan pasukan sesuai dengan kebutuhan yang diminta. Sementara keputusan terkait penugasan, waktu keberangkatan, dan kepastian lokasi berada di tingkat komando yang lebih tinggi.
“Kalau kami hanya penyiapan pasukannya saja,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita menyebutkan pihak TNI masih menunggu keputusan Presiden. Menurut dia, personel TNI yang akan diberangkatkan berdasarkan punya pengalaman seperti pasukan perdamaian bentukan PBB.
“Saya kira kita udah punya pengalaman ya, ada UNIFIL yang pernah ke sana, satuan-satuan yang pernah dikirim ke sana, inilah nanti yang akan kita rekrut,” kata Tandyo di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/2).
Kemlu: Pasukan RI Fokus Beri Bantuan Kemanusiaan
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyebutkan pasukan TNI akan berfokus pada bantuan kemanusiaan. Di samping itu juga akan membantu proses rekonstruksi dan menjaga gencatan senjata.
Juru Bicara II Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela. (Foto: Dok. Kemlu)
“Kalau untuk keterlibatan Indonesia sudah dijelaskan bahwa lebih fokus pada humanitarian (kemanusiaan), bantuan rekonstruksi, sama untuk mendukung gencatan senjata,” kata juru bicara Kemlu, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, di Jakarta Pusat, Selasa (10/2).
Dia mengatakan RI memang bersiap mengirim pasukan. Namun dia belum menjelaskan kapan pasukan tersebut akan dikirim ke Gaza.
“Kalau untuk proses persiapan, memang Indonesia melakukan persiapan tersebut. Mengenai timeline, ini belum ada yang definitif. Jumlah juga belum definitif,” ujarnya.
“Ya memang ada reservasi-reservasi dari kita untuk tidak terlibat dalam yang tidak sejalan dengan garis kita. Jadi itu yang saat ini memang pembahasannya berlangsung,” imbuhnya.
Istana Masih Bahas
Istana menegaskan rencana pemerintah Indonesia mengirimkan sekitar 8.000 anggota pasukan perdamaian ke Gaza masih dibahas. Belum diputuskan kepastian realisasi pengiriman pasukan tersebut.
“Belum, sedang dibicarakan. Tapi ada kemungkinan kita akan kurang lebih di angka 8.000 itu,” ujar Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi kepada wartawan seusai jumpa pers di Stasiun Gambir, Selasa (10/2/2026).
Mensesneg Prasetyo Hadi. (Foto: Eva Safitri/detikcom)
Pria yang dipanggil Pras itu menambahkan pasukan dari Indonesia akan bergabung dengan pasukan perdamaian dari negara lain. Namun dia belum menyebut di mana pasukan Indonesia akan ditempatkan.
“Belum. Kita baru mempersiapkan diri saja kalau sewaktu-waktu sudah dicapai kesepakatan dan kita harus mengirim pasukan perdamaian tentu itu sebagai sebuah komitmen itu akan kita lakukan,” jelasnya.
Pras menegaskan Indonesia berkomitmen untuk mengakui kemerdekaan Palestina. Dia juga menyinggung soal peran di Board of Peace (BoP).
“Kan yang pasti adalah berkenaan dengan masalah BoP beserta dengan seluruh turunan teknisnya itu kan ini, kan bagian dari komitmen bangsa kita untuk tentu yang pertama kita menghendaki pengakuan kemerdekaan kepada bangsa Palestina,” ucapnya.
“Yang kedua bagaimana kita melakukan upaya untuk bisa membantu masyarakat di Gaza. Makanya kemudian kita Indonesia beserta dengan 7 negara muslim yang lain memutuskan untuk bergabung di BoP tersebut,” imbuhnya.
Disorot Media Asing
Baru-baru ini, sejumlah media internasional ramai-ramai mengulas soal persiapan Indonesia untuk mengerahkan pasukan ke Jalur Gaza sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hamas. Persiapan Indonesia ini juga ramai dibahas oleh media-media lokal Israel.
Laporan media-media asing itu menyebut Indonesia sebagai yang pertama berkontribusi untuk pasukan keamanan internasional yang dikerahkan ke Jalur Gaza. Setidaknya tiga media Israel yang berbahasa Inggris mengulas soal persiapan pengerahan pasukan oleh Indonesia ke Jalur Gaza.
Salah satunya The Jerusalem Post, yang melaporkan soal persiapan pengerahan TNI itu dalam artikelnya yang berjudul “Indonesia to be first peacekeeping contributor to Gaza’s International Stabilization Force”.
The Jerusalem Post mengutip laporan media terkemuka Israel, KAN News, yang menjadi salah satu media yang pertama melaporkan soal persiapan pengerahan pasukan TNI ke Gaza sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).
“Indonesia akan menjadi negara pertama yang berkontribusi pada Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang akan menangani aspek-aspek perdamaian di Gaza selama fase kedua gencatan senjata pemerintahan Trump, demikian dilaporkan Channel 11 pada Senin (9/2),” tulis The Jerusalem Post dalam laporannya.
Channel 11 merujuk pada nama resmi televisi Kan, yang melaporkan persiapan pengerahan pasukan oleh Indonesia tersebut.
“Selain Indonesia, belum ada negara lain yang beralih dari komitmen umum kepada kesiapan konkret untuk mengerahkan pasukan,” sebut The Jerusalem Post.
The Times of Israel melaporkannya dalam artikel berjudul “Indonesia says up to 8,000 troops being prepared for possible Gaza deployment”.
“Indonesia sedang mempersiapkan potensi pengerahan 5.000 hingga 8.000 tentara ke Gaza di bawah rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump, kata kepala Staf TNI Angkatan Darat Indonesia, Maruli Simanjuntak, pada Senin (9/2) setelah rapat keamanan dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Jakarta,” tulis The Times of Israel dalam artikelnya.
Laporan-laporan lainnya soal persiapan Indonesia dalam mengerahkan pasukan ke Gaza diulas oleh media terkemuka Inggris, The Guardian, dalam laporannya yang berjudul “Indonesia prepares to send up to 8,000 troops to Gaza as part of Trump plan”.
(fca/whn)





