REKTOR Universitas Nasional atau Unas El Amry Bermawi Putera mengklaim Menteri Kebudayaan Fadli Zon layak diberikan gelar Profesor Kehormatan. Kata dia, pemikiran dan kontribusi Fadli selaras dengan pemikiran salah satu pendiri Unas yaitu Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Fadli diberi gelar Profesor Bidang Keilmuan Politik dan Kebudayaan.
“Unas melihat keselarasan yang kuat dengan pandangan perjuangan Fadli Zon,” kata dia dalam Sidang Terbuka dan Pemberian Gelar Profesor Kehormatan Unas di Kampus Unas, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Februari 2026 dipantau YouTube Kementerian Kebudayaan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kata dia, penyelenggaraan sidang pengukuhan ini memiliki makna historis dan kultural karena bertepatan dengan hari lahir Sultan Takdir Alisjahbana (STA). STA adalah tokoh besar pemikiran kebudayaan sekaligus sumber inspirasi intelektual.
“Momentum ini menjadi penghormatan bahwa warisan gagasan STA akan terus hidup dalam perjuangan kebudayaan yang kini juga diperjuangkan Fadli Zon,” ujar dia.
Unas, kata dia, tidak dapat dipisahkan dari kiprah STA yang menempatkan kebudayaan sebagai daya cipta, bukan sekadar warisan masa lalu. Indonesia memiliki tanggung jawab peradaban untuk berdialog dengan dunia dan memadukan budaya lokal dengan dinamika global. Budaya harus menjadi energi kemajuan.
“Gagasan ini menjadi roh Unas bahwa keterbukaan terhadap kemajuan serta keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan budaya tidak terpisahkan dalam membangun masa depan bangsa,” kata dia.
Unas melihat keselarasan antara pandangan STA dengan perjuangan Fadli Zon. Fadli dianggap konsisten dalam diplomasi kebudayaan, pelestarian sejarah, sastra, dan identitas nasional.
Dia melihat politikus Partai Gerindra itu memiliki keyakinan yang sama bahwa budaya merupakan kekuatan strategis bangsa. Indonesia bukan hanya sebagai negara dengan kekayaan budaya, tetapi sebagai simbol peradaban global. “Tempat nilai, gagasan, dan kreativitas bertemu serta memberi kontribusi bagi dunia,” kata dia.
Dia juga mengklaim penganugerahan Unas kepada Fadli Zon merupakan pengakuan akademik yang objektif. Pemberian juga sejalan dengan tradisi Unas dalam menghormati tokoh yang memberikan kontribusi luar biasa bagi pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban bangsa.
Menurut dia, berdasarkan karya intelektual, dan pengabdian yang berkelanjutan, Fadli Zon memenuhi kriteria kehormatan universitas.
Fadli juga dianggap berkontribusi dalam aktivitas keilmuan, pengajaran, penulisan buku dan artikel ilmiah, serta keterlibatan dalam diskursus akademik nasional dan internasional. “Kiprahnya relevan dalam pelestarian kebudayaan dan penguatan memori kolektif bangsa,” kata dia.
Fadli juga mendirikan berbagai museum dan rumah budaya, seperti Museum Pusaka, Museum Keramik Nusantara, serta Rumah Budaya. Unas melihat pendirian itu sebagai pusat edukasi dan penelitian kebudayaan yang terbuka bagi masyarakat dan kalangan akademik.
Dia mengatakan Fadli Zon juga memperjuangkan pelestarian budaya Indonesia, termasuk isu repatriasi artefak dan diplomasi kebudayaan. Berdasarkan pertimbangan akademik, kontribusi nyata, pengabdian berkelanjutan, serta dampak nasional dan internasional yang dihasilkan, Unas menganggap Fadli Zon layak dan pantas dianugerahi gelar profesor kehormatan.






