SEJUMLAH umat Katolik menggelar aksi seribu lilin dan doa di depan Kedutaan Besar Vatikan pada Selasa, 10 Januari 2026. Aksi itu digelar usai pengunduran diri Monsinyur Paskalis Bruno Syukur dari jabatannya sebagai Uskup Bogor. Massa mendorong keterbukaan serta dialog dari otoritas gereja terkait pengunduran diri tersebut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Aktivis gereja, Yustinus Prastowo, mengatakan aksi tersebut merupakan inisiatif spontan umat yang merasa bertanggung jawab agar suasana tetap sehat di tengah beredarnya berbagai desas-desus.
“Aksi ini berangkat dari keprihatinan tentang simpang siur seputar pengunduran diri Monsinyur Paskalis. Kami ingin mendorong keterbukaan, transparansi, dialog, dan rekonsiliasi,” kata Yustinus saat ditemui seusai aksi di depan Kedutaan Besar Vatikan, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Februari 2026.
Yustinus mengatakan, umat berharap tidak ada rumor yang berkembang liar dan mengarah pada prasangka buruk. Karena itu, penyelesaian persoalan diharapkan ditempuh melalui dialog secara hati ke hati dalam iman. “Ini aksi damai, bentuk tanggung jawab dan solidaritas,” ujarnya.
Peserta aksi berasal dari berbagai kalangan yang hadir atas nama pribadi. Mereka antara lain aktivis gereja, aktivis sosial politik, dosen, hingga rohaniwan. Sejumlah tokoh yang terlihat hadir di antaranya akademikus Robertus Robet, jurnalis senior Philipus Parera, serta beberapa suster dan romo.
Yustinus menyebut jumlah massa tidak sebesar yang direncanakan semula karena sempat beredar informasi bahwa aksi tersebut dibatalkan. “Karena ada broadcast yang menyebutkan aksi batal, banyak yang mengira tidak jadi. Tapi tadi tetap ada sekitar 300-an orang,” katanya.
Hingga kini umat belum mendapatkan penjelasan resmi mengenai alasan pengunduran diri Monsinyur Paskalis. Karena itu, massa aksi berharap ada klarifikasi dari otoritas gereja, baik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) maupun Vatikan melalui Nuncio Apostolik.
“Kami berharap ada klarifikasi mengenai alasan yang sebenarnya supaya tidak menimbulkan spekulasi. Mungkin juga perlu pemeriksaan ulang agar semuanya jelas,” ujar Yustinus.
Ia menambahkan, umat tidak bermaksud menghakimi atau mendorong pengadilan terhadap siapa pun. Aksi tersebut justru ditujukan agar pihak berwenang menggunakan kewenangannya membuka ruang dialog dan melakukan penelusuran lebih lanjut.
Dalam aksi itu, tidak ada perwakilan Kedutaan Besar Vatikan yang menemui massa. Menurut Yustinus, pihak Nuncio sedang berada di Larantuka untuk menghadiri tahbisan uskup. Seluruh rangkaian aksi dilakukan di luar area kedutaan dan berlangsung tertib.





