KRITIKAN soal penyediaan susu khusus untuk menu makan bergizi gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Susu kotak berwarna biru putih dengan merek “Susu Sekolah Susu Gratis Program MBG” juga menyita perhatian ahli gizi, Tan Shot Yen.
Belakangan, publik mengkritisi kandungan susu dalam susu kotak khusus MBG itu yang ternyata tak 100 persen susu murni. Tan mempertanyakan buat apa pemerintah begitu memaksakan pemberian susu untuk anak di sekolah. “Makan bergizi kan? Bukan minum bergizi?” tulis Tan Shot Yen dalam akun Instagram pribadinya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia juga menampilkan beberapa tangkapan layar netizen yang mengeluhkan susu tersebut. Ada orang tua yang menceritakan pengalamannya pada Tan, setelah anaknya minum susu khusus MBG itu, anaknya mengalami diare. “Fakta, 80 persen etnik melayu itu intoleran laktosa, risiko kembung, diare,” kata Tan.
Dia juga mengkritisi kadar susu murni dalam susu khusus MBG itu yang ternyata hanya 30 persen saja. Ada juga dalam kemasan lain. Susu khusus MBG kemasan lain itu juga ternyata hanya mengandung 50 persen susu sapi segar. Komposisi lainnya susu rekombinasi 49 persen dan mengandung penstabil nabati.
“Lalu apakah khasiat sebagai protein hewani masih sama dengan susu 100 persen? Tentu tidak. Apalagi ada umbuhannya. Sudah berupa ultra processed food (UPF). Walau imbuhannya bukan ,” kata Tan. “Kenapa maksa dengan produk susu dengan keribetan bikinan pabrik?”
Padahal, menurut Tan, telur lebih murah dan aman untuk dikonsumsi anak jika yang diinginkan adalah manfaat dari kandungan protein hewani.
Tempo telah berupaya mengonfirmasi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang ihwal susu khusus MBG tersebut. Namun, hingga berita ini ditulis, keduanya belum memberikan respons.






