Penjelasan Basarnas Soal Langkah Kaki Korban Pesawat ATR

BADAN SAR Nasional telah menelusuri informasi yang menyebut adanya pergerakan langkah kaki dari smartwatch milik salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500. Aktivitas pergerakan langkah kaki yang terekam itu diduga milik kopilot bernama Farhan Gunawan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Adapun informasi ini disampaikan dari salah satu orang terdekat korban. Perangkat milik Farhan itu tersambung di perangkat orang terdekat korban. Dalam perangkat itu tercatat penambahan langkah kaki korban selama tiga hari pasca kejadian.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan sudah memeriksa informasi tersebut kepada pihak keluarga. Pemeriksaan, kata dia, dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan.

“Setelah dibuka ternyata rekaman (langkah kaki) itu di beberapa bulan lalu, sewaktu korban masih di Yogyakarta,” kata dia ditemui di kompleks DPR/MPR, Jakarta pada Selasa, 20 Januari 2026.

Dia berujar persoalan adanya rekaman langkah kaki korban pesawat ATR sudah selesai. Menurut dia, pihak keluarga korban sudah memahami hal tersebut.

Syafii mengatakan tim penyelamat hingga kini masih berupaya mencari delapan korban yang keberadaannya belum ditemukan. Basarnas, ucap dia, telah mengerahkan sejumlah pesawat dan helikopter untuk mencari korban. “Mohon doanya saja,” kata dia.

Syafii berharap masih ada mukjizat untuk para korban kecelakaan pesawat yang dioperasikan Indonesia Air Transport tersebut. Meskipun, menurut dia, tidak ada korban yang sebetulnya bisa ditemukan dalam keadaan selamat.

“Namun saya sampaikan kami masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kami selamatkan dalam kondisi hidup,” ucapnya.

Sebelumnya, ‎pesawat ATR 42-500 dinyatakan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada 17 Januari 2026. Awak pesawat itu terdiri atas tujuh orang kru. Ketujuhnya adalah Andy Dahananto selaku kapten sekaligus pilot, Farhan Gunawan sebagai kopilot, Hariadi yang bertugas sebagai flight operation officer. Selanjutnya, dua teknisi pesawat, yaitu Restu Adi P dan Dwi Murdiono, serta dua awak kabin bernama Florencia Lolita dan Esther Aprilita.

‎Pesawat ini juga membawa tiga penumpang, yang semuanya merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang bertugas. Mereka adalah Ferry Irawan sebagai Analis Kapal Pengawas, Deden Mulyana selaku Pengelola Barang Milik Negara, dan Yoga Noval yang bertugas sebagai Operator Foto Udara.

‎Adapun tim penyelemat, hingga hari ketiga pencarian telah menemukan dua korban pesawat kecelakaan ATR di kawasan puncak Gunung Bulusaraung. Keduanya ditemukan di waktu dan lokasi yang berbeda. Kedua korban, masing-masing berjenis kelamin laki-laki dan perempuan juga urung dievakuasi lantaran terkendala medan terjal dan cuaca.

‎Tim gabungan juga telah menemukan serpihan pesawat milik Indonesia Air Transport tersebut. Lokasi penemuan berada di lereng selatan puncak Bulusaraung, dengan posisi badan pesawat di sebelah utara puncak gunung itu. Namun tim penyelamat belum menemukan black box dari pesawat ATR tersebut.

  • Related Posts

    13 Desa di Pasuruan Banjir, Ribuan Keluarga Terdampak

    Pasuruan – Sebanyak 13 desa di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, banjir sejak Selasa sore kemarin. Ketinggian air bervariasi. “Sebagian desa, banjir sudah surut, masih ada belasan desa di tiga kecamatan,…

    BPOM Beri Nilai A+ ke SPPG Polri Cipinang, Puji Standar Keamanan Pangannya

    Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Cipinang, Jakarta Timur, pagi ini. Kepala BPOM Taruna Ikrar memberikan nilai A plus terhadap…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *