MENTERI Kebudayaan Fadli Zon meminta KGPH Panembahan Agung Tedjowulan segera melakukan pemetaan menyeluruh terhadap Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai dasar rencana revitalisasi kawasan cagar budaya nasional tersebut. Pemetaan mencakup bangunan dan kawasan yang membutuhkan penanganan prioritas, baik dari sisi pelindungan, pengembangan, maupun pemanfaatannya.
Hal itu disampaikan Fadli Zon seusai menyerahankan Surat Keputusan (SK) Penunjukan Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan atau Pemanfaatan Cagar Budaya Keraton Surakarta, Ahad, 18 Januari 2026. Dalam SK itu, Menteri Kebudayaan menunjuk KGPH Panembahan Agung sebagai pelaksana.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Setelah ditunjuk sebagai pelaksana, Panembahan Agung Tedjowulan kami harapkan segera melakukan pemetaan. Mana bangunan yang perlu dibersihkan, direnovasi, dan direvitalisasi lebih dulu, tentu dengan melibatkan semua pihak,” ujar Fadli.
Menurut Fadli, Keraton Surakarta yang memiliki luas sekitar 8,5 hektare menyimpan banyak bangunan bersejarah peninggalan para raja Pakubuwono (PB) IX hingga XIII. Namun, hasil peninjauannya menunjukkan masih banyak bangunan yang kurang terawat dan bahkan kosong, sehingga membutuhkan penanganan serius dan negara hadir mengambil peran itu.
“Tadi saya melihat langsung ke bagian belakang Keraton, ternyata banyak bangunan yang kondisinya perlu perhatian. Ini kawasan cagar budaya nasional, jadi harus kita jaga bersama,” katanya.
Fadli mengatakan pemetaan tersebut harus dilakukan secara inklusif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari keluarga besar Keraton, lembaga adat, pemerintah daerah, hingga kementerian dan lembaga terkait. Dengan adanya pemetaan yang jelas, pemerintah dapat menyalurkan dukungan dan anggaran secara akuntabel dan tepat sasaran.
“Kalau tidak ada penanggung jawab yang jelas, nanti pemerintah juga akan kesulitan. Dana dari APBN atau APBD itu harus jelas kepada siapa pertanggungjawabannya. Karena itu kita menunjuk pelaksana,” tegasnya.
Selain aspek fisik, Fadli juga meminta Panembahan Agung Tedjowulan memfasilitasi musyawarah internal keluarga besar Keraton untuk menyatukan pandangan dan menciptakan suasana yang kondusif dalam pengelolaan Keraton Surakarta ke depan.
“Urusan perbedaan pendapat di keluarga Keraton tentu dimusyawarahkan secara internal. Beliau nanti yang mengundang seluruh kerabat untuk duduk bersama. Pemerintah akan memfasilitasi jika diperlukan,” ujarnya.
Fadli optimistis, dengan pemetaan dan revitalisasi yang terencana, Keraton Surakarta dapat dikembangkan menjadi pusat wisata budaya, sejarah, religi, hingga kuliner yang memberi manfaat tidak hanya bagi keluarga besar Keraton, tetapi juga masyarakat Kota Solo dan nasional.
“Potensinya sangat besar. Revitalisasi ini adalah bentuk komitmen negara bahwa pemerintah hadir dan peduli terhadap kemajuan kebudayaan,” ucap Fadli.
Sementara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menyatakan penetapan dirinya sebagai pelaksana pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan mandat besar dari negara yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, keputusan tersebut menjadi amanah untuk menyelamatkan, melestarikan, sekaligus memajukan Keraton Surakarta sebagai salah satu warisan budaya dan peradaban umat manusia yang sangat berharga di Indonesia.
“Keputusan penunjukan ini merupakan mandat yang sangat besar dari negara untuk menyelamatkan, melestarikan, dan memajukan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,” ujar Panembahan Agung Tedjowulan.
Ia juga menilai penunjukan tersebut sebagai bukti nyata komitmen Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam menjaga dan melestarikan istana-istana di Nusantara sebagai khazanah kekayaan budaya bangsa.
“Ini adalah bukti nyata perhatian dan komitmen Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto dalam melestarikan istana-istana di Nusantara sebagai peninggalan peradaban umat manusia yang sangat berharga di negeri tercinta kita. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ucapnya.
Panembahan Agung Tedjowulan menegaskan bahwa tugas tersebut tidak mungkin dijalankan seorang diri. Ia pun memohon doa restu serta dukungan dari seluruh pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun keluarga besar Keraton Surakarta.
“Kami tidak bisa melaksanakan tugas ini sendiri. Dari lubuk hati yang paling dalam, kami memohon doa restu dan dukungan semua pihak,” katanya.
Secara khusus, ia mengajak keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk menjadikan perhatian pemerintah sebagai momentum untuk kembali bersatu dan memperkuat persaudaraan demi masa depan Keraton.
“Kepada keluarga besar Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kami mengajak untuk mensyukuri perhatian besar dari pemerintah ini sebagai momentum untuk kembali bersatu. Kita harus kompak dan rukun, meletakkan ego masing-masing, dan menegakkan cita-cita luhur demi Karaton yang sama-sama kita cintai,” tuturnya.
Ia berharap seluruh pihak dapat bekerja sama demi kebaikan bersama dan masa depan Keraton Surakarta sebagai warisan budaya bangsa yang lestari.






