Kata Para Menteri soal Guru Besar UGM Ditolak Masuk Istana

PARA menteri menanggapi sejumlah guru besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang gagal memasuki Istana Kepresidenan Jakarta untuk memenuhi undangan Presiden Prabowo Subianto pada Kamis, 15 Januari 2026. Sebagian akademikus tersebut ditolak masuk Istana karena nama mereka tak muncul di daftar undangan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan akan memeriksa kejadian tersebut. “Nanti saya cek,” kata Brian seusai forum dialog antara Presiden Prabowo dan para guru besar serta pimpinan universitas itu Kamis ini.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Brian, pemerintah sebenarnya ingin agar forum dengan Kepala Negara bisa dihadiri sebanyak-banyaknya akademikus dari perguruan tinggi. “Hanya karena keterbatasan ini juga kan belum seluruh perguruan tinggi hadir,” tuturnya.

Brian menyebut pemerintah berencana menggelar pertemuan-pertemuan berikutnya antara Presiden dengan para akademikus. Dia berujar akan mengundang para guru besar yang belum dapat hadir dalam forum kali ini.

Meski begitu, Brian belum memastikan kapan forum selanjutnya akan berlangsung. Mantan wakil rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini akan menunggu arahan dari Presiden Prabowo.

Brian mengklaim pertemuan-pertemuan itu adalah bukti Prabowo terbuka dengan kelompok akademikus dan peneliti. Sebelumnya, kata dia, Prabowo telah mengadakan pertemuan dengan para guru besar sebanyak dua kali pada Maret 2025 di Istana Kepresidenan Jakarta dan Agustus 2025 di ITB.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga menanggapi kejadian guru besar UGM yang gagal masuk Istana. Seperti Brian, Prasetyo mengatakan akan memeriksa kejadian tersebut. “Masa sih? Nanti saya cek,” ucapnya.

Prasetyo berujar beberapa akademikus dari UGM sempat hadir dalam forum dengan Prabowo hari ini. Salah satunya Rektor UGM Ova Emilia.

Untuk forum hari ini, terdapat delapan nama guru besar UGM dalam daftar surat undangan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dari delapan nama itu, sebagian guru besar gagal masuk Istana Negara karena nama mereka tak muncul dalam daftar Sekretariat Negara. Ada juga guru besar yang menolak memenuhi undangan.

Guru besar Ilmu Perencanaan Kota Fakultas Teknik UGM, Bakti Setiawan, memutuskan tidak datang dalam forum itu karena ragu bisa menyampaikan masukan secara langsung kepada Prabowo. Dia melihat jumlah undangan peserta yang terlalu banyak tidak efektif. “Masak ratusan orang bisa beri masukan. Tujuan acara itu juga tidak begitu jelas,” kata Bakti dihubungi pada Kamis, 15 Januari 2026.

Bakti berpandangan masukan atau kritik kepada pemerintah bisa ia sampaikan dengan cara menulis melalui jurnal. Cara itu dia anggap lebih efektif ketimbang datang pada forum itu. Bakti mendengar sejumlah guru besar yang berangkat ke Jakarta tak bisa masuk ke Istana Negara, meski namanya tercantum dalam undangan Kemendiktisaintek.

Tempo mencoba menghubungi sejumlah guru besar yang gagal masuk Istana Negara. Satu di antaranya seorang guru besar UGM yang berjibaku mengikuti proses pendaftaran setelah mengetahui namanya muncul dalam daftar undangan.

Guru besar tersebut meminta namanya tidak ditulis. Sehari sebelum acara, profesor tersebut telah sampai di Jakarta dan bersiap mengikuti acara setelah mengurus tiket pesawat secara mendadak. Sesampainya di Jakarta, namanya tak terdaftar sehingga dia tak bisa masuk Istana Negara.

Padahal, staf UGM, menurut dia, telah membantu registrasi namanya sesuai ketentuan Kemendiktisaintek. “Panitia malah minta saya pakai nama kampus lain supaya bisa masuk,” kata dia.

Profesor tersebut menolak dan kembali ke hotel tempat dia menginap. Selain undangan yang serba mendadak, panitia juga tiba-tiba mengubah jam acara dari pukul 13.00 menjadi pukul 08.00-12.00. Pemberitahuan itu panitia kirim sehari sebelum acara.

Guru besar tersebut memperlihatkan pemberitahuan itu melalui pesan WhatsApp. Panitia mencantumkan sejumlah persyaratan kepada peserta, misalnya, memegang kertas undangan, wajib menggunakan bus yang disediakan panitia dan berangkat pukul 05.00.

Shinta Maharani berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
  • Related Posts

    Buron 2 Tahun, Maling Motor Wartawan Saat Liputan Curanmor di Sumsel Ditangkap

    Lubuklinggau – Polisi menangkap pelaku pencurian motor milik wartawan televisi (TV) nasional bernama Sudirman saat sedang liputan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel). Pelaku sempat buron selama…

    RUU Perampasan Aset Dibahas DPR, Pakar Bicara Sanksi Efektif Lawan Koruptor

    Jakarta – Ahli Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho, menilai dimulainya pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset oleh DPR RI sebagai momentum penting yang tidak boleh kembali disia-siakan oleh negara. Ia…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *