Jakarta Banjir Lagi, Waduk Solusinya?

HUJAN deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada Senin, 12 Januari 2026 lalu menyebabkan banjir di berbagai titik. Banjir juga menyebabkan kawasan jalan Tol Sedyatmo yang menuju arah Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang macet.

Di Bekasi, Jalan arteri yang terendam banjir mengakibatkan ratusan pengendara motor akhirnya melintas lewat jalan tol. Petugas mengarahkan mereka masuk dari gerbang Tol Tarumajaya ke arah gerbang Tol Semper, Jakarta Utara.

Kepala Induk PJR Tol Cikampek Komisaris Sandy Titah Nugraha menyebut, rekayasa lalu lintas ini dilakukan lantaran jalur arteri Bekasi terendam banjir. “Ratusan pemotor dikawal PJR Induk Cikampek dari gerbang tol (GT) Taruma Jaya Bekasi hingga GT Semper Jakarta Utara imbas arteri Bekasi yang terendam banjir,” kata Titah dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 12 Januari 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Adapun di Jakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD DKI mencatat hingga Selasa, 13 Januari 2026, pukul 06.00 WIB, sebanyak 28 rukun tetangga (RT) dan 6 ruas jalan masih terendam banjir.

Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD Jakarta Mohamad Yohan mengatakan genangan terjadi akibat curah hujan yang tinggi. “Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan peningkatan debit air dan genangan di beberapa wilayah,” kata Yohan.

Banjir hampir tiap tahun menyapa Jakarta. Turunnya daya dukung lingkungan ditambah fenomena alam, membuat banjir setiap tahun terus bertambah lokasinya. Pemerintah Jakarta telah melakukan berbagai cara untuk mencegah banjir.

Namun pengamat tata kota Universitas Trisaktir Yayat Supriatna mengatakan akar persoalan banjir di Jakarta terletak pada rencana induk lama. “Masterplan pengendalian banjir Jakarta yang disusun tahun 1973 itu sudah tidak mampu mendukung kondisi sekarang,” kata dia dihubungi, Rabu, 14 Januari 2026.

Masalah banjir Jakarta juga berkaitan dengan hilangnya daya resap akibat perubahan tata ruang yang lebih berpihak pada aktivitas manusia. Pertumbuhan permukiman dan padatnya penduduk membuat ruang air tersingkir. Konflik antara kebutuhan air dan kebutuhan ruang menjadi tak terelakkan. 

“Jakarta sudah berubah, resapannya sudah banyak hilang, penduduknya makin padat, sehingga Jakarta sudah tidak memiliki resapan air lagi,” kata Yayat.

Kondisi tersebut diperparah oleh sistem drainase yang tak mengikuti perkembangan kota. Banyak kawasan padat, terutama permukiman kumuh, tumbuh tanpa infrastruktur air memadai. Saat hujan turun, limpasan air langsung membanjiri jalan dan permukiman. 

Keterbatasan infrastruktur dan degradasi lingkungan membuat Jakarta berada dalam situasi rentan. Penurunan muka tanah dan banjir rob di wilayah utara memperburuk keadaan. Ia menilai solusi struktural makin sulit diwujudkan. “Jakarta itu sudah pasrah total dalam kondisi sekarang, hujan sedikit saja Jakarta sudah menyerah,” kata Yayat.

Di tengah keterbatasan itu, Yayat menilai mitigasi nonstruktural menjadi kunci, terutama kesiapsiagaan warga menghadapi bencana. Edukasi keselamatan dan perawatan lingkungan dinilai lebih realistis. “Yang harus dilakukan satu-satunya adalah mengajarkan sikap masyarakat untuk bisa bertahan dalam kondisi bencana,” ujar dia.

Pembangunan Waduk

Pemerintah Provinsi Jakarta menempatkan pembangunan waduk sebagai salah satu strategi utama mitigasi banjir. Waduk diposisikan untuk menahan limpasan air hujan sekaligus mengurangi genangan di kawasan permukiman padat. Gubernur Jakarta Pramono Anung meresmikan Waduk Batu Licin di Cilangkap, Jakarta Timur, sebagai bagian dari kebijakan tersebut. 

Waduk Batu Licin dibangun di atas lahan sekitar 4,5 hektare dengan area tampungan 2,7 hektare dan kapasitas sekitar 92 ribu meter kubik. Pemerintah daerah mengklaim waduk ini efektif menekan genangan yang sebelumnya rutin terjadi saat hujan deras. Pramono menyebut perubahan kondisi mulai dirasakan warga sekitar. 

“Sebelumnya setiap hujan deras kawasan ini selalu tergenang,” ujar dia, ditemui di Jakarta Timur, Selasa, 13 Januari 2026.

Pembangunan waduk, kata Pramono, bagian dari strategi jangka menengah pengendalian banjir yang selaras dengan program normalisasi Sungai Ciliwung, Sungai Sunter, dan Kali Krukut. Ia mengklaim, dengan dukungan sistem pompa serta pemantauan curah hujan dan potensi rob, genangan kini dapat ditangani dalam waktu satu hingga satu setengah jam.

Selain pembangunan waduk, Pemprov Jakarta mengandalkan sistem pompa sebagai penanganan jangka pendek banjir dan genangan. Pemerintah menyiagakan sekitar 1.200 pompa air yang tersebar di berbagai titik rawan. Menurut Pramono, kesiapsiagaan pompa menjadi kunci respons cepat saat hujan lebat. “Ada 1.200 bomba, kurang lebih 600 portable dan 600 mobile,” kata dia.

Pramono mengatakan pengendalian banjir tidak dilakukan secara insidental, melainkan berlapis dan berkelanjutan. Penanganan dibagi dalam skema jangka pendek, menengah, dan panjang, meski solusi jangka panjang membutuhkan waktu lebih lama. Pramono menilai pola siaga membuat dampak hujan ekstrem lebih terkendali. “Sekarang karena selalu kita siagakan, dampaknya bisa lebih cepat dikendalikan,” ujar dia. 

Untuk wilayah pesisir, Pemprov Jakarta mendorong proyek giant sea wall sebagai solusi jangka panjang banjir rob dan penurunan muka tanah. Proyek ini disebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dan diharapkan segera terealisasi. Pramono menilai manfaatnya strategis bagi masa depan Jakarta. “Ini akan menyelesaikan penurunan permukaan tanah dan persoalan air bersih,” kata dia.

Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah menilai kebijakan mitigasi banjir Pemprov Jakarta belum efektif karena jumlah titik banjir justru bertambah. Ia menyebut banyak kawasan yang sebelumnya tidak pernah tergenang kini ikut terdampak, terutama akibat buruknya sistem drainase yang tak disesuaikan dengan debit hujan ekstrem. 

“Kebijakan belum efektif, titik banjir bertambah,” kata dia, dihubungi Rabu, 14 Januari 2026.

Menurut Trubus, langkah pemerintah seperti pembangunan waduk, pompa, hingga wacana giant sea wall masih bersifat jangka pendek dan belum menyentuh akar persoalan. Ia menilai perbaikan sungguh-sungguh menuntut keberanian melakukan pelebaran waduk dan relokasi permukiman di sekitarnya.

  • Related Posts

    Nyamar Jadi Tamu Nikahan, Emak-emak di Bekasi Ketahuan Curi Amplop

    Jakarta – Viral di media sosial seorang perempuan ditangkap warga saat acara nikahan di Mustikajaya, Bekasi, Jawa Barat. Perempuan itu disebut menyamar sebagai tamu undangan tapi ternyata mencuri amplop nikahan.…

    KPK Bakal Periksa Lagi Fuad Hasan Untuk Segera Lengkapi Berkas Perkara

    Jakarta – KPK memastikan akan kembali memeriksa bos Maktour, Fuad Hasan, terkait kasus dugaan korupsi kuota haji 2024. KPK mengatakan pemeriksaan terhadap Fuad Hasan untuk melengkapi berkas perkara kasus tersebut.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *