KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan mengirimkan 1.142 taruna ke lokasi bencana Sumatera. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melepas 300 orang taruna di Skadron 45 Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pada Rabu, 14 Januari 2026.
Menurut dia, pengiriman pelajar dari satuan pendidikan vokasi kelautan dan perikanan itu terbagi ke dalam beberapa tahap. Sejumlah taruna telah bersiaga di lokasi dan sebagian lagi akan menyusul.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“(Kami) menurunkan taruna-taruna satuan pendidikan KKP untuk terlibat langsung dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana sekaligus membantu pemulihan sosial masyarakat terdampak,” kata Trenggono.
Dia berujar, taruna itu akan bertugas selama tiga bulan di lokasi bencana di Sumatera Barat dan Aceh. Mereka diminta untuk mendukung tugas-tugas pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda akhir November 2025.
“Para taruna akan (memberi)dukungan rekonstruksi fasilitas umum pasca bencana, rehabilitasi lingkungan dan pemukiman, kegiatan trauma healing dan pendampingan psikososial masyarakat,” kata dia.
Trenggono berujar, KKP memiliki total enam ribu taruna. Adapun 1.142 taruna yang dikirim ke daerah bencana berasal dari Politeknik Ahli Usaha Perikanan Jakarta, Politeknik Pangandaran, Politeknik Karawang, Politeknik Sidoarjo, Politeknik Dumai, Sekolah Usaha Perikanan Menengah Ladong dan Pariaman.
Dia menilai penugasan taruna ke lokasi bencana merupakan bagian dari proses pendidikan yang utuh. Di lokasi itu, para taruna diharapkan bisa belajar langsung tentang arti pengabdian, kerjasama lintas instansi, disiplin, empati, dan keberanian untuk hadir di saat bangsa membutuhkan.
Dari tiga bulan bertugas di lokasi bencana, setiap taruna itu akan mendapatkan delapan satuan kredit semester atau SKS. “Mereka harus bekerja dan itu akan menjadi bagian dari pengalaman untuk para taruna dan kami akan berikan juga 8 kredit SKS,” kata dia.
Berikutnya, Trenggono menyatakan kementeriannya telah menyusun skema penugasan yang dikoordinasikan dengan instansi terkait dengan memperhatikan aspek keselamatan, efektivitas mobilisasi, dan kebutuhan di lapangan. Namun, ia menyerahkan rincian pemberian tugas kepada Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera.
Mantan Kepala Kepolisian RI itu juga menghadiri agenda pelepasan taruna hari ini. Tito mengatakan, keterlibatan taruna itu dibutuhkan di lapangan akibat keterbatasan sumber daya Tentara Nasional Indonesia dan Polri.
“TNI dan Polri sudah menambah pasukan. Enggak cukup, kita ingin cepat. Kalau ingin cepat yang paling cepat adalah sekolah kedinasan,” ujar dia.
Menurut Tito, format pembelajaran semi-militer di sekolah kedinasan menghasilkan taruna yang memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata. Kemampuan fisik itu dianggap cocok untuk kebutuhan lapangan. Alasan lain, adalah pemerintah lebih mudah memobilisasi pelajar di sekolah dinas yang dikendalikan oleh pemerintah.
Selain taruna dari sekolah dinas KKP, Tito menyebutkan bahwa lebih dari 1.000 Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri juga telah dikirim ke lokasi bencana. Selain itu, ada juga sekitar 500 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang juga dikerahkan.





