Korban Keracunan MBG di Majene Mayoritas Balita

SEBANYAK 50 orang terkonfirmasi mengalami keracunan setelah menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Mayoritas korban merupakan balita, berdasarkan data awal yang dihimpun tim surveilans dinas kesehatan setempat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Data Tim Surveilans Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat mencatat, hingga Selasa, 13 Januari 2026, 40 orang masih dalam penanganan fasilitas kesehatan. Rinciannya, sembilan orang dirawat di rumah, satu orang dinyatakan sembuh, dan tidak ada pasien yang dirujuk ke rumah sakit.

“Ini data pembaruan pukul 16.00 WITA,” tulis tim surveilans dalam laporan yang diterima Tempo pada Selasa, 13 Januari 2026.

Pihak hubungan masyarakat Puskesmas Majene membenarkan bahwa sebagian besar korban merupakan anak usia balita. “Rata-rata korban adalah balita. Untuk ibu hamil, masih kami cek kembali untuk validasi data,” kata petugas humas Puskesmas Majene saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Tim surveilans bersama dinas kesehatan telah mengambil sampel muntahan korban serta sampel makanan yang diduga menjadi sumber keracunan. Berdasarkan pendataan awal, menu MBG yang dikonsumsi korban meliputi nasi putih, ayam suwir, mi kecap, sayur sop, tahu kuning, dan buah semangka.

Pengambilan sampel makanan dilakukan di Bank Sampel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Majene Tubo Sendana Onang, oleh petugas kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Majene. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel tersebut mulai dilakukan pada 13 Januari 2026.

Dinas kesehatan mencatat sejumlah gejala yang dialami korban sebelum mendapatkan penanganan medis, antara lain sakit perut, mual, muntah, diare, sakit kepala, demam, serta turgor kulit yang jelek. Dugaan sementara, keracunan berasal dari makanan MBG yang didistribusikan oleh SPPG Majene Tubo Sendana Onang yang dikelola Yayasan Kreatif Jaya Perdana dan dibagikan di sekolah serta posyandu.

Hingga kini, dinas kesehatan setempat belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas peristiwa tersebut. Tim surveilans dan dinkes setempat masih melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memastikan sumber dan pola penyebaran kasus sambil menunggu hasil uji laboratorium dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mamuju.

Tempo telah meminta tanggapan dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang, dan juru bicara BGN Hanibal Wijayanta ihwal kasus tersebut. Namun, hingga berita ini ditulis ketiganya belum memberikan respons.

  • Related Posts

    Warga Warakas Jakut Ganti Ranjang Kayu dengan Coran gegara Sering Kebanjiran

    Jakarta – Warga di Warakas, Jakarta Utara sengaja membuat ranjang cor-coran agar tak rusak saat rumahnya kebanjiran. Ranjang itu bahkan dilapisi dengan keramik. Shofa, pemilik ranjang itu mengungkpkan alasan tidak…

    Pengakuan Younger Rugi Rp 3 M Berujung Laporkan Timothy Ronald

    Jakarta – Satu per satu korban dugaan penipuan trading kripto Timothy Ronald buka suara. Salah satu korban mengaku telah ‘rungkad’ hingga Rp 3 miliar. Kasus itu telah dilaporkan ke Polda…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *