PENELITI yang juga Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Tri Wibawa mewanti-wanti sebaran kasus Superflu di Indonesia.
Menurutnya, Superflu yang merupakan nama populer dari varian influenza A subclade K itu, tetap menjadi varian yang bisa berbahaya terutama bagi kelompok rentan. Hal ini pasca temuan puluhan kasus dengan sebaran terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat hingga saat ini.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Meskipun virus itu tidak menunjukkan peningkatan keparahan, tetapi potensi dari virus ini bisa mengakibatkan pandemi sehingga perlu diwaspadai,” kata Tri, Jumat 9 Januari 2026.
Hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS), kasus itu telah terdeteksi sejak Agustus 2025. Hingga Desember 2025, telah terdeteksi total 62 kasus. Dari temuan itu, satu orang dilaporkan meninggal dunia di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung usai terjangkit Superflu.
Tri mengatakan, virus Superflu ini secara genetik memiliki perbedaan dengan virus yang sebelumnya bersirkulasi.
Meskipun begitu, ia mensinyalir virus ini tetap memiliki hubungan kekerabatan dengan virus flu musiman yang kerap dialami banyak orang.
Tri menjelaskan, varian Influenza A subclade K mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Yang diketahui berdasarkan sifat materi genetik (RNA) yang dibawanya.
Dari perubahan genetik kecil yang terjadi tersebut, dapat menghasilkan virus-virus varian baru yang berkerabat dekat.
Menurutnya, dengan perubahan virus yang cepat dan munculnya varian baru yang secara signifikan berbeda, akan turut mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia.
“Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat,” ujar Tri.
Bagi Tri, pencegahan dari penularan varian virus ini dengan cara menerapkan etika batuk yang baik, menggunakan masker bagi untuk orang yang sedang mengalami gejala flu, mencuci tangan secara periodik, beristirahat cukup, serta memastikan ruangan memiliki ventilasi yang cukup.
Menurutnya vaksinasi tetap perlu dilakukan untuk kelompok rentan.
“Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia (lanjut usia), ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” kata dia.
Tri membeberkan, hingga saat ini memang belum ada tanda tak biasa dari virus ini berevolusi. Sebab virus tersebut selalu berubah dalam rangka revolusinya.
“Sejauh ini belum ada studi khusus baik laboratorium maupun populasi jika varian Superflu ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan,” kata dia.
“Jadi harus waspada, karena virus ini dapat berakibat fatal pada orang yang rentan,” ujarnya.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Lana Unwanah menuturkan di Kota Yogyakarta sempat terdeteksi satu kasus Superflu pada September 2025.
“Yang bersangkutan sekarang sudah sembuh tidak ada gejala-gejala yang mengarah ke influenza,” ujarnya, Jumat.
Lana menuturkan, pasca kasus Superflu merebak di Indonesia, pihaknya intens melakukan pemantauan. Sebab tren infeksi saluran pernapasan akut juga sempat meningkat jumlahnya pada September-Oktober 2025 lalu seiring berhembusnya Superflu.






