PDIP Bahas Wacana Pilkada lewat DPRD di Rakernas 2026

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP akan menggelar rapat kerja nasional pada 10-12 Januari 2026 di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta. Salah satu yang akan dibahas dalam agenda tahunan itu adalah wacana pemilihan kepala daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau Pilkada lewat DPRD.

“Mengenai wacana pilkada banyak masukan dari masyarakat maupun dari kader-kader partai di daerah untuk menjadi salah satu bagian yang dibahas,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP Bidang Keanggotaan dan Organisasi Andreas Hugo Pareira melalui pesan singkat pada Jumat, 9 Januari 2025.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dari delapan fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat, saat ini PDIP menjadi satu-satunya partai yang menentang pilkada tak langsung. Sementara gagasan menghidupkan kembali pilkada lewat DPRD diusung oleh sejumlah elite partai pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Partai banteng pimpinan Megawati Soekarnoputri memilih menjadi partai penyeimbang di luar Koalisi Indonesia Maju. Andreas menjelaskan bahwa dalam rakernas mendatang juga akan menindaklanjuti sikap partai yang telah ditegaskan dalam Kongres V PDIP di Bali, pada awal Agustus 2025.

“Rakernas dengan pesertanya anggota struktur partai, kader legislatif, kepala daerah memiliki agenda untuk implementasi partai penyeimbang di pusat dan daerah,” ujar dia.

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menuturkan bahwa agenda rakernas digelar bersamaan untuk memperingati hari ulang tahun partai ke-53. Selain isu politik, Hasto mengatakan bahwa rakernas juga akan mendiskusikan respons PDIP atas persoalan geopolitik, krisis ekologi, kasus penegakan hukum hingga perekonomian.

Adapun tema yang diusung dalam rakernas adalah ‘Satyam Eva Jayate: Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya’. Hasto menjelaskan, slogan ‘Satyam Eva Jayate’ merupakan bahasa Sanskerta yang artinya ‘kebenaran akan menang’.

Menurut dia, topik itu dipilih untuk menjadi simbol perisai moral yang menjadi standar kebenaran berdasarkan ideologi Pancasila. Ia menekankan, Satyam Eva Jayate bukan sekadar slogan bagi para pemuda, tapi pesan moral dalam dunia digital dengan makna khusus.

“Untuk berani berbicara kritis sebagai cermin kebebasan berpendapat yang dilindungi konstitusi serta berani menempuh jalan ‘anti mainstream’ di dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan,” ujar Hasto.

Selanjutnya, Hasto juga memaparkan arti sub tema ‘Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya’.  Kutipan itu merupakan penggalan dari lirik lagu Indonesia Raya karya W. R. Supratman yang dianggap menunjukkan daya tahan. Hasto berpandangan, perpaduan tema Satyam Eva Jayate cocok dengan sub tema kutipan lagu kebangsaan tersebut.

“Keteguhan terhadap posisi ‘di sanalah aku berdiri’ juga menggambarkan kesetiaan pada jalan kerakyatan di tengah godaan pragmatisme politik,” tutur dia.

  • Related Posts

    Sejumlah Fakta Pelaporan Pandji Pragiwaksono ke Polisi

    KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghasutan di muka umum dan penistaan agama terkait materi pertunjukan stand up comedy bertajuk Mens Rea. Angkatan Muda Nahdlatul Ulama…

    5 Hal soal Gus Yaqut dan Gus Alex Jadi Tersangka Kasus Korupsi Haji

    Jakarta – KPK telah menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (YCQ) atau Gus Yaqut sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tahun 2024. Ada sejumlah hal yang telah diketahui…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *