Langkah Konkret PTPP Terapkan Bisnis Berintegritas hingga Ramah Lingkungan

INFO TEMPO – Langkah PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk atau PTPP dalam menerapkan prinsip tata kelola yang berintegritas dan berkelanjutan secara konsisten membuahkan hasil manis. Salah satunya melalui keberhasilan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu meraih Anugerah Indeks Integritas Bisnis Lestari (INSTAR) pada Desember 2025 lalu.

Dalam penilaian INSTAR 2025 yang berbasis kepada tiga fondasi Environmental, Social, and Governance (ESG) itu, PTPP dinilai mampu menunjukkan keunggulan pada tiga dimensi utama dan ketahanan korporasi. Pada dimensi tata kelola menyangkut Bisnis Berintegritas, PTPP dianggap unggul berkat penerapan kebijakan antikorupsi yang komprehensif, pengoperasian whistleblowing system terbuka bagi internal maupun eksternal, serta integrasi sistem pengendalian seperti SAP dan e-Proc untuk mencegah fraud

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sementara dalam dimensi Sosial dan Hak Asasi Manusia (HAM), PTPP menonjol melalui implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang konsisten, penyediaan pelatihan keselamatan dan pengembangan kompetensi, serta komitmen terhadap kebijakan nondiskriminasi dan pemenuhan hak tenaga kerja. Sedangkan terkait dimensi lingkungan, PTPP memperoleh skor tertinggi pada indikator terkait pengelolaan limbah dan emisi yang sistematis, pemantauan kualitas lingkungan, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan, serta pelaporan kinerja lingkungan transparan.

“PTPP menyambut baik penyelenggaraan INSTAR 2025 yang digagas Tempo bersama Transparency International Indonesia (TII) dan Institute for Strategic Initiatives (ISI),” kata SVP-Corporate Secretary PT PP (Persero) Tbk, Joko Raharjo, awal Januari 2026. Menurut dia, penilaian berbasis integritas dan keberlanjutan ini menjadi rujukan penting bagi dunia usaha.

Sejatinya, kata Joko, keberhasilan PTPP meraih Anugerah INSTAR 2025 merupakan bentuk apresiasi atas komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip tata kelola berintegritas dan berkelanjutan secara konsisten. Termasuk, menjaga keselamatan dan kesejahteraan tenaga kerja serta masyarakat sekitar, serta menerapkan praktik ramah lingkungan agar perusahaan tetap tangguh dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Joko menyebut, BUMN yang didirikan pada 26 Agustus 1953 ini memandang prinsip keberlanjutan berbasis ESG sebagai fondasi strategis dalam menjalankan bisnis konstruksi dan investasi yang bertanggung jawab. Sebab, ESG tidak hanya diposisikan sebagai kewajiban kepatuhan. Namun, juga sebagai kerangka kerja untuk memastikan pertumbuhan perusahaan sejalan dengan  perlindungan lingkungan, peningkatan kesejahteraan sosial, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel. 

“Melalui ESG, PTPP berupaya menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, dan masyarakat luas,” kata Joko. Meski begitu, lanjut dia, terdapat juga tantangan internal maupun eksternal yang dihadapi PTPP dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip ESG.

Terkait tantangan internal menyangkut upaya menyatukan pemahaman dan konsistensi implementasi ESG di seluruh unit kerja dan proyek dengan karakteristik berbeda-beda. Pasalnya, ESG membutuhkan perubahan budaya kerja, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta penguatan sistem data dan pelaporan.

“Secara eksternal, tantangan muncul dari kesiapan ekosistem, termasuk ketersediaan material ramah lingkungan, teknologi hijau yang kompetitif, serta keselarasan pemahaman ESG di antara mitra kerja, pemasok, dan pemilik proyek,” kata Joko.

Adapun dari ketiga aspek ESG, Joko mengatakan, implementasi yang berkaitan dengan Environmental atau lingkungan cenderung membutuhkan upaya ekstra karena bersifat teknis, memerlukan investasi awal, serta menuntut pengukuran dampak yang akurat. “Di sisi lain, aspek Governance menjadi kunci agar implementasi ESG berjalan konsisten dan terukur, sementara aspek Social membutuhkan pendekatan berkelanjutan agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh pekerja dan masyarakat sekitar proyek,” ujar Joko. 

PTPP, lanjut dia, turut meyakini penerapan ESG merupakan enabler atau penggerak terciptanya ekonomi hijau. Hal itu, kata Joko, melalui efisiensi sumber daya, pengurangan emisi, inovasi teknologi konstruksi, serta perlindungan sosial dan lingkungan. ESG juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak merusak daya dukung alam. “Dalam konteks Indonesia, sektor konstruksi memiliki peran strategis untuk menjadi motor transisi menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.”

Joko memastikan, PTPP sudah melakukan langkah konkret guna mewujudkan ekonomi hijau tersebut. 

Langkah itu antara lain bisa dilihat dari implementasi Roadmap ESG PTPP 2024–2028 secara bertahap dan terukur. Selanjutnya, penguatan Green Construction dan efisiensi energi, air, serta material di proyek. Berikutnya, penggunaan teknologi digital dan dashboard ESG untuk monitoring kinerja, peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan awareness ESG, serta kolaborasi dengan akademisi, asosiasi, dan pemangku kepentingan.

Mengingat, bagi PTPP kolaborasi dan sinergi dengan pemangku kepentingan merupakan faktor kunci keberhasilan ESG. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pemerintah, pemilik proyek, mitra kerja, pemasok, akademisi, dan masyarakat perlu terus diperkuat. “Ke depan, yang perlu ditingkatkan adalah keselarasan standar ESG, transparansi data, dan komunikasi yang lebih intensif agar tujuan keberlanjutan dapat dicapai bersama,” kata Joko. 

PTPP, lanjut dia, memandang, regulasi di Indonesia secara umum sudah menunjukkan arah yang positif dalam mendukung ESG dan ekonomi hijau. Aspek yang masih perlu ditingkatkan yakni penguatan insentif, harmonisasi standar, serta panduan teknis yang lebih aplikatif, khususnya untuk sektor konstruksi dan infrastruktur. “Dengan begitu, implementasi ESG dapat berjalan lebih masif dan konsisten,” katanya.

PTPP, kata Joko, mulai tahun 2026 menargetkan perluasan implementasi ESG secara bertahap ke anak perusahaan. Kemudian, penguatan kualitas data dan pelaporan ESG, serta peningkatan kinerja lingkungan dan sosial yang terukur.

Joko memastikan, PTPP tetap berpijak pada fondasi yang telah dibangun dan disertai inovasi seperti digitalisasi monitoring ESG, peningkatan green construction, serta penguatan kolaborasi strategis. Tak hanya itu, dalam jangka pendek, implementasi ESG dirancang semakin terinternalisasi sebagai budaya kerja dan standar operasional di seluruh proyek. “Jangka panjang, PTPP menargetkan menjadi benchmark penerapan ESG di sektor konstruksi Indonesia, berkontribusi nyata terhadap ekonomi hijau, serta menciptakan nilai berkelanjutan bagi generasi mendatang.”

PT PP (Persero) Tbk (kedua kanan) berfoto bersama seusai menerima Anugerah Indeks Integritas Bisnis Lestari (INSTAR) 2025 kategori verified pada Malam Anugerah INSTAR 2025 di Jakarta, pada Jumat, 12 Desember 2025. TEMPO/Hendy Mulia

Diketahui, penganugerahan INSTAR 2025 merupakan bagian dari ikhtiar agar perusahaan maupun BUMN berkontribusi terkait penerapan ESG. Dengan begitu, kontribusi perusahaan dan BUMN tak hanya secara ekonomi. “Kontribusi perusahaan tidak hanya secara ekonomi tapi juga kepada manusia dan lingkungan, menjadi bagian dari wacana publik menjadi bagian dari percakapan publik,” tutur CEO Info Media Digital, Wahyu Dhyatmika.

Dia pun mengapresiasi banyaknya perusahaan dan BUMN yang berkenan mengikuti proses seleksi Anugerah INSTAR. Total terdapat 1.019 perusahaan yang menjadi objek penilaian INSTAR 2025, terdiri dari 958 perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Februari 2024 dan 61 BUMN non-emiten. Dari jumlah tersebut, hanya 900 perusahaan yang menerbitkan Laporan Tahunan dan Laporan Keberlanjutan yang masuk dalam proses penilaian

Ratusan perusahaan itu kemudian melalui proses review. Hasilnya, 479 perusahaan lolos dari seleksi awal. Tahap seleksi awal dilakukan oleh pihak TII dengan sejumlah indikator. “Kemudian, 479 kami undang untuk mengikuti proses verifikasi tahap kedua yang dilakukan oleh teman-teman ISI. Verifikasi tahap kedua lebih mendalam, lebih rinci,” ujar Wahyu. 

Hasilnya, terdapat dua kategori pencapaian yaitu status committed dan verified. Status commited disematkan kepada perusahaan maupun BUMN yang telah lulus tahap seleksi pertama. Sedangkan, status verified ditetapkan kepada perusahaan maupun BUMN yang melalui seleksi tahap kedua dan memenuhi semua kriteria. “Dua hal ini menjadi sebuah indikator bagaimana perusahaan berkontribusi terhadap tiga value penting yaitu ESG,” ujar Wahyu.

Pada Malam Anugerah INSTAR 2025, lanjut dia, terdapat 15 perusahaan yang telah mengikuti verifikasi gelombang pertama sejak September 2025. Lima perusahaan tercatat meraih lencana verified INSTAR 2025, sedangkan 10 perusahaan, mendapatkan lencana committed. Sementara beberapa perusahaan masih mengikuti proses verifikasi gelombang kedua, yang akan berlangsung hingga Maret 2026. Tempo Data Science membuka gelombang kedua ini untuk memberikan kesempatan kepada perusahaan-perusahaan agar lebih memahami dampak dan manfaat INSTAR 2025. (*)

  • Related Posts

    Gempa M 2,8 Terjadi di Sumur Banten

    Jakarta – Gempa berkekuatan magnitudo (M) 2,8 terjadi di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kedalaman gempa 10 Km. BMKG melaporkan gempa terjadi pada Sabtu (10/1/2026) pukul 04.14 WIB. Gempa berada…

    Hadiri Perayaan Natal di JI-Expo, Pramono Ingatkan Keluarga Fondasi Bangsa

    Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menghadiri perayaan Natal 2025 di JI-Expo Kemayoran, Jakarta Pusat. Pramono mengatakan Natal kali ini berjalan damai. Perayaan Aktualisasi Nilai-nilai Natal 2025 ini dihadiri…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *