KOORDINATOR Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji melakukan riset sederhana untuk membuktikan apakah makan bergizi gratis (MBG) dapat meningkatkan prestasi anak sekolah. Hasil risetnya menunjukkan MBG malah membuat prestasi siswa menurun.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ubaid membandingkan capaian pembelajaran siswa antara menggunakan ujian nasional (UN) 2019 dan tes kemampuan akademik (TKA) 2025. Dari tiga mata pelajaran utama seperti bahasa inggris, bahasa Indonesia, dan matematika menunjukkan hasil capaian pembelajaran siswa dari UN 2019 masih lebih tinggi dibandingkan hasil TKA 2025.
“Data ini melanjangi kegagalan negara secara terang-terangan. MBG tidak membuat siswa lebih pintar, justru sebaliknya,” kata Ubaid dalam Diskusi Publik Peringatan 1 Tahun MBG: Kroni Untung, Anak-Anak Diracun, di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis, 8 Januari 2026.
Dalam data yang dihimpun JPPI, poin nilai UN 2019 untuk mata pelajaran bahasa inggris rata-rata 54,6. Sementara pada TKA 2025, nilai bahasa inggris siswa rata-rata hanya 24,9. Untuk mata pelajaran bahasa Indonesia di UN 2019, rata-rata nilainya adalah 67,8.
Sedangkan pada TKA 2025 kemarin, rata-rata nilai bahasa Indonesia hanya 55,3. Untuk mata pelajaran matematika di UN 2019 rata-rata nilai siswa sebesar 39,2. Sementara pada TKA 2025 rata-rata nilai matematika siswa hanya 36,1.
Ubaid mengatakan, hal itu membuktikan satu hal krusial: masalah pendidikan Indonesia bukan pada lapar, melainkan pada rusaknya sistem belajar. “Negara memilih memberi makan tubuh siswa, sambil membiarkan kelas tanpa guru berkualitas, kurikulum tanpa arah, dan pembelajaran tanpa nalar,” ujar Ubaid.
Saat ini, Ubaid menilai MBG telah diposisikan sebagai jalan pintas politik untuk menutup kegagalan reformasi pendidikan di Indonesia. Dia mengkritisi anggaran ratusan triliun yang digelontorkan untuk MBG. Tetapi, tak satu pun indikator akademik utama menunjukkan perbaikan.
Menurut Ubaid, program MBG bukanlah untuk investasi pendidikan, melainkan justru pelemahan kualitas anak Indonesia. “Jika arah ini diteruskan, Indonesia sedang menyiapkan Indonesia yang kenyang secara biologis, tetapi miskin secara intelektual,” ujarnya.
Ubaid mengingatkan, ke depan negara Indonesia hanya akan panen siswa yang bisa makan gratis, tetapi tidak mampu membaca secara kritis, tidak mampu berhitung secara logis, apalagi bersaing secara global.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menyatakan menerima seluruh kritik dan saran yang diarahkan kepada lembaganya. “Satu tahun ini kita melihat kegiatan yang positif, ya. memang di sana sini masih ada kekurangan dan kami terus perbaiki di tahun 2026,” kata Dadan dalam konferensi pers dikutip dari Youtube Badan Gizi Nasional, Kamis, 8 Januari 2026.
Dadan bilang pemerintah akan mengejar target agar penerima manfaat mencapai 82,9 juta jiwa. “Tapi sambil terus memperbaiki diri untuk sekaligus melakukan sertifikasi akreditasi. Sehingga kita akan bisa mengelompokkan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) berbasis kualitas layanan,” kata dia.






