WAKIL Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengungkapkan insiden seperti keracunan atau masalah yang terjadi dalam program makan bergizi gratis (MBG) di luar kendali manusia. Ia tak dapat memastikan ke depan apakah tidak akan ada lagi kejadian atau masalah yang timbul dalam program tersebut.
“Untuk mencapai zero (insiden), itu Allah yang menggaransi ya,” kata Nanik dalam Konferensi Pers 1 Tahun Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Operasional Perdana Program MBG Tahun 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Meski begitu, Nanik menyampaikan pihaknya akan berusaha keras untuk meminimalisir masalah, terutama kasus keracunan.
Nanik mengklaim, setidaknya sejak Agustus dan September 2025 kasus keracunan sudah sangat berkurang signifikan. “Bisa dilihat, makin ke sini makin berkurang,” kata dia.
Dia mengatakan penurunan kasus itu bisa terjadi karena ada pengetatan syarat sertifikat laik hiegiene sanitasi (SLHS). “SLHS itu wajib,” ujarnya.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan data terakhir keracunan akibat menu makan bergizi gratis (MBG) di seluruh Indonesia. Per 23 Desember 2025, kata Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji, sudah ada lebih dari 20 ribu korban keracunan MBG.
“Per hari ini, sudah 20.012 data di JPPI. Itu yang terlaporkan ke kami. Yang tidak lapor pasti banyak sekali,“ kata Ubaid dalam diskusi soal MBG di Ruang Belajar Alex Tilaar, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Desember 2025.
Ubaid heran, meski angka korban keracunan sudah lebih dari 20 ribu, belum ada perbaikan tata kelola atau niat baik dari pemerintah untuk menghentikan sementara program tersebut. “Tim kami mendapati ada dua kasus meninggal diduga akibat MBG. Itu hasil dari tim pemantauan kami di Kuningan dan Cihampelas,” ujar Ubaid.






