BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah pengungsi di wilayah terdampak bencana Sumatera pada November lalu berangsur menurun. Per Selasa, 6 Januari 2026, total warga yang masih mengungsi tercatat sebanyak 242.174 jiwa. Angka itu berkurang dari 395 ribu pada 31 Desember 2025 lalu.
“Pengungsi ini terus menurun dengan puncak di 8 Desember, dan kita lihat seiring dengan peningkatan dari jumlah hasil pencarian dan pertolongan, jumlah korban yang hilang juga makin berkurang,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Kantor Graha BNPB, Jakarta, pada Selasa, 6 Januari 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia memaparkan jumlah pengungsi paling banyak berada Aceh dengan proporsi 217.780 jiwa. Rinciannya, Aceh Tamiang 74.735 jiwa, kemudian Aceh Utara 67.876 jiwa, dan 19.906 jiwa masih mengungsi di Gayo Lues.
Di samping itu, BNPB juga melaporkan sebanyak 1.178 jiwa meninggal dan 147 jiwa masih dinyatakan hilang. Korban hilang paling banyak berada Sumatera Barat dengan 43 jiwa. Hingga hari ini, Abdul mengklaim, proses pencarian korban-korban tersebut masih terus berlangsung.
“Operasi pencarian dan pertolongan masih diteruskan sampai nanti fase tanggap darurat provinsi nanti dievaluasi pada akhir perpanjangan ketiga di tanggal 8 Januari,” kata dia.
Abdul lantas memaparkan perkembangan status tanggap darurat di tiga provinsi yang disapu banjir bandang dan tanah longsor pada November 2025 itu. Provinsi Aceh, masih menerapkan status tanggap darurat hingga 8 Januari 2026 untuk sembilan daerah dari total 18 kabupaten atau kota terdampak.
Sembilan daerah yang masih berstatus tanggap darurat antara lain Kota dan Kabupaten Pidie Jaya, Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Nagan Raya, dan Gayo Lues. Sementara sembilan daerah lainnya telah beralih ke fase transisi darurat.
Selanjutnya, seluruh wilayah Sumatera Utara telah resmi mengakhiri tanggap darurat dan mulai bergeser ke transisi pemulihan. Begitu pun dengan Sumatera Barat, mulai beralih ke tahap transisi darurat setelah Kabupaten Agam dinyatakan pulih usai diterjang banjir susulan pada pekan lalu.
“Jadi ini kita harapkan pergeseran dari tanggap darurat ke transisi darurat juga akan diikuti oleh kabupaten dan kota lain pada saat nanti perpanjangan tanggap daruratnya berakhir,” kata Abdul.
BNPB menambahkan, selama masa tanggap darurat operasi penanggulangan berfokus pada pencarian korban, distribusi logistik, pembukaan akses jalan, serta pembersihan kawasan permukiman dan fasilitas umum. Abdul menyebut hingga kini lebih dari 1.600 unit alat berat dikerahkan di tiga provinsi untuk mendukung pembersihan material banjir dan longsor serta normalisasi sungai.






