PANITIA Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menyampaikan, insentif tambahan kuota 5 persen bagi sekolah pengguna e-Rapor bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan ada keuntungan meningkatkan peluang siswa diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Koordinator Teknologi dan Sistem Informasi PDSS SNPMB Riza Satria Perdana mengatakan sekolah berakreditasi A yang mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) menggunakan e-Rapor berhak memperoleh tambahan kuota SNBP sebesar 5 persen sejak tahun lalu.
“Kalau sekolah akreditasi A normalnya dapat kuota 40 persen. Dengan e-Rapor, kuotanya naik jadi 45 persen. Itu signifikan,” kata Riza dalam Sosialisasi Daring Registrasi Akun SNPMB dan Pengisian PPDS, Selasa, 6 Januari 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia mencontohkan sekolah dengan 200 siswa. Tanpa insentif, kuota SNBP hanya 80 siswa. Namun dengan e-Rapor, kuota bertambah menjadi 90 siswa. “Tambahan 5 persen itu kelihatannya kecil, tapi dampaknya besar tergantung jumlah siswa,” ujarnya.
Berdasarkan data SNBP 2025, Riza menepis anggapan bahwa tambahan kuota tersebut tidak berdampak pada peluang lolos seleksi. Dari sekitar 14 ribu siswa yang berada di rentang peringkat 40–45 persen, yakni kelompok yang masuk berkat tambahan kuota e-Rapor, sekitar 2.900 siswa dinyatakan lolos SNBP. “Itu hampir 20 persen dari pendaftarnya. Artinya peluangnya nyata, bukan PHP,” kata Riza.
Meski demikian, Riza mengakui jumlah sekolah pengguna e-Rapor masih tergolong kecil. Pada SNBP 2025, hanya 1.161 sekolah yang mengisi PDSS menggunakan e-Rapor dari total hampir 20 ribu sekolah. Jumlah siswa dari sekolah tersebut sekitar 64 ribu orang, jauh lebih sedikit dibanding total peserta SNBP yang mencapai sekitar 800 ribu siswa.
Panitia SNPMB berharap pada SNBP 2026 terjadi peningkatan signifikan jumlah sekolah yang memanfaatkan e-Rapor, mengingat keuntungan kuota yang ditawarkan.
Menurut Riza, peluang siswa di peringkat 40–45 persen bisa menyamai siswa peringkat atas jika diarahkan memilih program studi yang sesuai dengan minat dan kemampuan. “Kuncinya ada di pemilihan prodi. Jangan memaksakan ke prodi yang sangat kompetitif kalau kemampuannya tidak di situ,” ujarnya.
Ia menekankan peran kepala sekolah dan guru bimbingan konseling (BK) dalam mengarahkan siswa eligible agar memanfaatkan tambahan kuota secara optimal. “PDSS itu krusial. Dengan data yang baik dan pilihan prodi yang tepat, peluang diterima SNBP bisa tinggi,” kata Riza.






