CARITAS Indonesia (Karina Foundation) mengeluarkan peringatan dini perihal meningkatnya risiko perdagangan orang dan migrasi tidak aman di wilayah pascabencana alam hidrometeorologi yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera. Peringatan ini disampaikan menyusul kondisi kerentanan masyarakat terdampak bencana yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, anggota keluarga, hingga dokumen resmi, sehingga rawan menjadi sasaran praktik eksploitasi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Komite Migran, Pengungsi, dan Anti Perdagangan Orang Caritas Indonesia menilai situasi setelah bencana Sumatera berpotensi menjadi pintu masuk praktik perdagangan manusia. Disrupsi kehidupan akibat bencana menciptakan trauma, kegamangan, bahkan keputusasaan, kerap dimanfaatkan oleh predator dengan menawarkan bantuan berupa uang, pekerjaan, relokasi, hingga adopsi anak.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Berdasarkan kesaksian staf dan relawan Core Response Team (CRT) yang terjun langsung di lapangan bersama jaringan keuskupan, banyak warga kehilangan rumah, mata pencaharian, serta dokumen penting seperti kartu identitas dan ijazah. Dalam kondisi tersebut, pilihan keluar dari situasi kebencanaan kerap diambil secara tidak biasa dan berisiko tinggi, sehingga meningkatkan potensi perdagangan orang dan migrasi tidak aman.
Caritas Indonesia mengajak pemerintah dan masyarakat sipil untuk memberikan perlindungan hukum bagi warga terdampak agar tidak jatuh ke tangan pihak yang menawarkan utang, pekerjaan ilegal, adopsi anak, maupun migrasi tidak prosedural. Seluruh lokasi pengungsian dan rumah korban diingatkan perlu dikawal ketat agar tidak dimasuki pelaku perdagangan orang.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia Romo Fredy Rante Taruk menegaskan bahwa isu perdagangan orang dan migrasi tidak aman merupakan tanggung jawab bersama. “Dengan dukungan 38 jaringan keuskupan di seluruh Indonesia, Caritas membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk memberantas perdagangan manusia dan menciptakan iklim migrasi yang aman,” katanya, dalam konferensi pers secara online, Senin 5 Januari 2025.
Anggota Komite sekaligus pendamping Komisi Keadilan dan Perdamaian–Pastoral Migran dan Perantau di Batam, Romo Chrisantus Paschalis, menekankan bahwa bencana kerap menjadi momentum masuknya praktik perdagangan orang. Proses pemulihan wilayah pascabencana membutuhkan waktu, dan dalam masa inilah para pelaku memanfaatkan situasi dengan menawarkan jalan keluar instan kepada masyarakat rentan tanpa pertimbangan matang.
“Pentingnya kehadiran negara dalam memberikan perlindungan hukum bagi warga yang kehilangan pekerjaan, orang tua, dan dokumen resmi,” kata Romo.
Sementara itu, praktisi hubungan internasional sekaligus anggota Komite Caritas Indonesia, Dinna Prapto Raharja, mengungkap sejumlah modus yang perlu diwaspadai, antara lain pelaku yang mengaku berasal dari lembaga kemanusiaan, memanipulasi emosi korban, menjanjikan pekerjaan dan perlindungan, hingga melumpuhkan daya kritis korban agar tidak melakukan pengecekan kepada otoritas. “Pentingnya kepekaan pemerintah dan masyarakat sipil dalam membaca gerak-gerik korban bencana agar tidak dikuasai predator,”.
Peringatan serupa juga disampaikan Suster Laurentina SDP yang menilai korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi. Oleh karena itu, peran media massa dinilai penting untuk menyebarluaskan informasi tentang bahaya perdagangan orang dan migrasi tidak aman agar pengalaman serupa yang terjadi di wilayah lain tidak terulang kembali.
Caritas Indonesia juga mendorong percepatan rehabilitasi wilayah terdampak bencana. Romo Reginald Piperno menegaskan bahwa lambatnya pemulihan dapat membuka peluang bagi pelaku perdagangan orang menawarkan pekerjaan non-prosedural ke luar daerah. Ia mengingatkan agar semua pihak yang berniat membantu benar-benar mengedepankan kemanusiaan tanpa kepentingan tersembunyi.
Sebagai bentuk komitmen, Caritas Indonesia bersama jaringan keuskupan membuka hotline pelaporan dugaan perdagangan orang dan migrasi tidak aman bagi warga terdampak bencana di wilayah Sumatera melalui WhatsApp 0811-9996-728 atau email [email protected].
Sejak bencana hidrometeorologi melanda Sumatera pada akhir November 2025, Caritas Indonesia bersama Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, dan Keuskupan Padang aktif melakukan pelayanan kemanusiaan. Berdasarkan laporan situasi per 3 Januari 2026, bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diperkirakan berdampak pada lebih dari 3,3 juta jiwa dan memaksa sekitar satu juta orang mengungsi, dengan korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.157 orang.
Selain pemantauan, Caritas Indonesia telah menyalurkan bantuan pangan, hygiene kit, shelter kit, serta membuka layanan kesehatan dan dukungan psikososial bagi ribuan warga terdampak. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan masyarakat pascabencana sekaligus menutup celah terjadinya perdagangan orang dan migrasi tidak aman.






