BENCANA banjir yang melanda Kota Padang, Sumatera Barat, berdampak serius terhadap fasilitas pendidikan. Misalnya seperti di SMA Negeri 12 Padang, Sumatera Barat. Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sedikitnya 100 unit komputer rusak setelah sekolah tersebut terendam banjir pada akhir November 2025 dan kembali terdampak pada awal Januari 2026.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan banjir merendam hampir seluruh fasilitas sekolah, termasuk ruang kelas, laboratorium, dan perpustakaan. Lumpur setinggi 1 hingga 1,2 meter menggenangi area sekolah seluas sekitar 14 ribu meter persegi. “Lebih dari 70 persen mobiler sekolah rusak dan sekitar 100 unit komputer terendam sehingga tidak dapat digunakan,” kata Atip dalam keterangan resmi, Selasa, 6 Januari 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Selain komputer, banjir juga merusak laboratorium IPA, laboratorium komputer, ruang guru, ruang administrasi, serta koleksi perpustakaan. Akibat kerusakan tersebut, proses pembelajaran terpaksa dialihkan ke ruang-ruang darurat menggunakan tenda dan kelas berlapis terpal.
Atip menegaskan kerusakan fasilitas tidak boleh menghentikan proses belajar-mengajar. Menurut dia, pembelajaran tetap harus berjalan dengan menyesuaikan kondisi lapangan. “Keterbatasan ini adalah keadaan darurat. Namun tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti bergerak,” ujarnya.
Dia menyampaikan, Kemendikdasmen telah memetakan tingkat kerusakan satuan pendidikan terdampak banjir. Sekolah dengan kerusakan berat, termasuk SMAN 12 Padang, akan diprioritaskan dalam program revitalisasi pada 2026. Di Sumatra Barat, terdapat sekitar 50 sekolah yang masuk daftar prioritas perbaikan.
Guru SMAN 12 Padang Rahmidayetti mengatakan aktivitas pendidikan tetap berlangsung meski fasilitas rusak parah. Saat ujian semester ganjil pada pertengahan Desember 2025, sebagian siswa mengikuti ujian di tenda darurat dengan sarana terbatas. “Ada yang hanya duduk di kursi tanpa meja, tetapi ujian tetap berjalan,” katanya.
Salah seorang siswa kelas XII, Fajar Aulia Putra, mengatakan kerusakan fasilitas sekolah membuat suasana belajar belum kembali normal. “Sedih melihat sekolah rusak, tapi kami senang bisa kembali belajar. Sekarang sekolah masih sangat butuh alat kebersihan agar bisa cepat pulih,” ujarnya.






