MENTERI Agama atau Menag Nasaruddin Umar menganalogikan teknologi akal imitasi atau artificial intelligence (AI) sebagai pisau bermata dua. Sebab, menurut Nasaruddin, teknologi itu bisa membawa kemajuan besar tetapi juga berpotensi menimbulkan dehumanisasi apabila tidak dikelola secara cermat dan bijak.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan dan manajemen penggunaan akal imitasi. “Artificial intelligence itu seperti atom. Ia bisa menjadi sumber energi yang sangat besar dan murah. Tetapi jika salah digunakan, dampaknya juga bisa sangat berbahaya,” ujar Nasaruddin di Jakarta, pada Sabtu, 3 Januari 2026, dikutip dari keterangan di laman resmi Kementerian Agama.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia menyampaikan bahwa Kementerian Agama berperan memberikan arah moral dalam pengembangan teknologi, termasuk AI. Nasaruddin melihat pengembangan akal imitasi perlu diiringi bimbingan spiritual. “Tanpa panduan nilai keagamaan, AI berpotensi melahirkan dehumanisasi baru. Ini yang harus kita antisipasi bersama,” ucap dia.
Dia lantas menambahkan, Kementerian Agama tengah menindaklanjuti Deklarasi Istiqlal sebagai bagian dari upaya pemberian arahan etis untuk pengembangan teknologi. “Peran Kementerian Agama adalah memberikan direction kepada umat dan warga bangsa,” ujar Nasaruddin.
Ia mewanti-wanti bahwa akal imitasi tidak boleh menjadi bumerang atau malapetaka. Sebaliknya, teknologi tersebut harus dimanfaatkan untuk mempercepat kemajuan dan daya saing bangsa.
Menteri Nasaruddin juga menilai pendekatan etika dan spiritual dalam pengembangan AI merupakan hal yang penting di tengah persaingan global yang semakin ketat. Ia mengatakan kemajuan teknologi harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan agar tidak menggerus martabat manusia.






