SETARA Institute: Tragedi SMAN 72 Jakarta Bukan Tindakan Kriminal Biasa

SETARA Institute menilai tragedi ledakan di SMAN 72 Jakarta bukan peristiwa kriminal biasa semata. Koordinator Setara Institute Hendardi mengambil kesimpulan itu dari adanya temuan narasi “Welcome to Hell” dan nama-nama teroris dunia di senapan mainan milik terduga pelaku.

Nama yang dimaksud yakni Brenton Tarrant, pelaku teror di Selandia Baru dan teroris dari Kanada, Alexandre Bissonnette. “Tragedi tersebut bukanlah peristiwa kriminal biasa, namun patut diduga mengarah pada terorisme,” ujar Hendardi dalam keterangan resmi pada Ahad, 9 November 2025.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Peristiwa ledakan yang terjadi pada Jumat siang, 7 November 2025 itu menyebabkan sedikitnya 96 orang terluka, termasuk terduga pelaku. Hendardi mengingatkan insiden harus menjadi alarm serius bagi pemerintah bahwa kalangan muda di Indonesia mulai terpapar tindakan ekstrimisme.

Dia menjelaskan terpaparnya remaja dengan paham intoleransi hingga ekstremisme terlihat dari hasil riset Setara Institute pada 2023. Riset itu menemukan bahwa 24,2 remaja memiliki sifat intoleran pasif, kemudian 5 persen dari mereka intoleran aktif, dan 0,6 remaja lainnya terpapar ideologi ekstremisme.

Menurut Hendardi, meski toleransi di kalangan remaja SMA cukup tinggi, yakni di angka 70,2 persen, namun angka itu meningkat cukup tajam pada kategori intoleran aktif dibandingkan survei serupa pada 2016, yakni intoleran aktif di kalangan remaja naik dari 2,4 persen menjadi 5,0 persen, dan pada kategori terpapar dari 0,3 persen menjadi 0,6 persen.

Dalam pandangan Setara Institute, sejauh ini program pencegahan intoleran aktif dan remaja terpapar belum efektif, bahkan cenderung melemah di era pemerintahan Prabowo Subianto. Hendardi menduga kelalaian ini dipengaruhi oleh efisiensi anggaran dan fakta objektif nol serangan teroris’ dalam tiga tahun terakhir.

Mantan anggota tim pencari fakta (TPF) kematian Munir ini lantas menyarankan agar rencana aksi nasional pencegahan rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme (RAN-PE) harus diaktivasi kembali. Begitu pun dengan pemerintah daerah mengoptimalisasi peran mereka melalui rencana aksi daerah penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme (RAD-PE). 

Ia menegaskan insiden semacam ini jangan sampai terulang kembali, apalagi di lingkungan pendidikan. “Kejadian di SMA 72 Jakarta merupakan peringatan keras bahwa pencegahan ekstremisme kekerasan harus selalu ditempatkan sebagai program prioritas,” kata  Hendardi.

  • Related Posts

    Kurir Sabu 40 Kg di Medan Divonis Seumur Hidup Penjara

    Jakarta – Majelis hakim Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara, menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Aswari (30). Aswari terbukti menjadi kurir 40 kilogram narkotika jenis sabu-sabu. “Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa…

    Periksa Istri HM Kunang Terkait Kasus Bupati Bekasi, Ini yang Dicecar KPK

    Jakarta – KPK telah memeriksa istri ayah dari Bupati Bekasi nonaktif Ade Kuswara Kunang, HM Kunang, Kartika Sari terkait kasus ijon proyek. Kartika Sari dicecar terkait pertemuan suaminya dengan tersangka…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *