Menteri Sosial soal Gelar Pahlawan Nasional Soeharto: Kita Ingat yang Baik-baik

USULAN pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan presiden Soeharto mendapat kritik dari masyarakat sipil. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang bertanggung jawab menyaring usulan tersebut, meminta masyarakat mengingat hal-hal baik dari jenderal yang berkuasa 32 tahun itu.

Menurut Saifullah, penolakan terhadap usul gelar pahlawan untuk Soeharto adalah bagian dari dinamika penganugerahan gelar. “Itu adalah bagian dari proses, dinamika. Lampiran lah dari keputusan gelar pahlawan ini,” kata dia di Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Ahad, 9 November 2025.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Saifullah meminta masyarakat mengingat hal-hal positif dari mantan presiden yang lengser setelah gelombang demonstrasi besar pada 1998. “Mari kita ingat yang baik-baik, sambil kita catat yang kurang-kurang untuk mudah-mudahan tidak terulang lagi ke depan,” kata politikus Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Kementerian Sosial mengklaim Soeharto telah memenuhi syarat untuk menjadi pahlawan nasional. Selain Soeharto, kata Saifullah, ada nama aktivis buruh yang tewas di era Orde Baru, Marsinah, dan mantan presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang juga memenuhi syarat gelar pahlawan.

Wacana gelar pahlawan untuk Soeharto mendapat kritik dari masyarakat sipil hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Anggota Komisi X DPR Bonnie Triyana mengingatkan pentingnya melihat fakta sejarah secara utuh dalam menyikapi usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu mengatakan, pahlawan seharusnya tak memiliki catatan sejarah kelam. “Pahlawan sejati bukanlah dia yang membawa dampak kesengsaraan begitu banyak. Bukanlah dia yang pernah membungkam suara-suara kritis dari aktivis mahasiswa,” kata Bonnie dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 8 November 2025.

Rencana pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional untuk Soeharto juga dikritik publik. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi tidak menjawab apakah Presiden Prabowo Subianto mengetahui banyaknya penolakan atas rencana tersebut.

Prasetyo hanya menyatakan pengusulan penerima gelar pahlawan nasional dilakukan melalui prosedur. Ia menuturkan memang akan ada respons pro dan kontra. Tapi ia meminta semua pihak melihat hal positif pada Soeharto. “Marilah kita arif dan bijaksana, belajar menjadi dewasa, sebagai sebuah bangsa untuk menghormati serta menghargai jasa-jasa para pendahulu. Mari kita kurangi selalu melihat kekurangan-kekurangan,” katanya di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu, 8 November 2025.

Dian Rahma Fika dan Eka Yudha Saputra berkontribusi dalam tulisan ini.
  • Related Posts

    Prabowo di 1 Abad NU: Kampung Haji hingga Klaim Jaga Rakyat

    PRESIDEN Prabowo Subianto menghadiri mujahadah kubro satu abad Nahdlatul Ulama atau NU di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada Ahad, 8 Februari 2026. Selama 30 menit, Prabowo menyampaikan pidato di hadapan nahdliyin. …

    Top 3: Hasil Survei Kinerja Prabowo hingga Perpres AI

    TIGA berita di kanal Nasional menjadi terpopuler pada Minggu, 8 Februari 2026. Berita terpopuler pertama mengenai hasil survei tingkat kepuasaan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto  yang dilakukan oleh Lembaga survei Indikator Politik…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *