Santri melampaui stereotipenya

Telaah

Santri melampaui stereotipenya

  • Oleh Masuki M. Astro
  • Selasa, 21 Oktober 2025 05:46 WIB
  • waktu baca 5 menit
Santri melampaui stereotipenya
Santri mengikuti kajian kitab kuning yang dibacakan Kyai dengan metode Amtsilati di Pesantren modern Al Aqobah 1 Jombang, Jawa Timur, Sabtu (16/3/2024). Metode Amtsilati merupakan metode cepat membaca kitab kuning yang diterapkan di Pondok Pesantren modern Al Aqobah dan selama Ramadhan para santri diwajibkan mengikuti berbagai kajian kitab kuning. ANTARA FOTO/Syaiful Arif/YU

Mereka baru tahu bahwa di pesantren, kiai, dan santri sudah biasa berhubungan dengan masyarakat luar, bukan hanya dari luar agama Islam, tapi juga dari luar negeri yang non-Islam

Bondowoso (ANTARA) – Dulu, santri dan pesantren identik dengan hal-hal yang berbau tradisional. Bahkan, stereotipe santri itu melekat pada pakaian, dimana santri biasa disebut sebagai kaum sarungan, karena kebiasaan sehari-hari mereka mengenakan sarung, bukan celana.

Di bagian bawah, alas kaki, santri dikenal sebagai pemakai terompah, sandal terbuat dari kayu yang tali pengaitnya menggunakan ban bekas.

Status santri di masa lalu juga hanya disandang oleh orang-orang desa, yang pendidikan formalnya rendah. Itu dulu. Di Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, kita dapat melihat tren baru, dimana santri telah mampu melampaui stereotipenya. Daya tarik menjadi santri telah merambah kota dan komunitas masyarakat modern.

Karena itu, di dalam dunia akademik, politik, bisnis, seni, sastra, dan lainnya, kini tidak sulit untuk menemukan sosok berlatar belakang santri. Kini, banyak santri yang sudah biasa dengan pakaian celana, baju jas berdasi, dan sandal berganti dengan sepatu, meskipun ketika di rumah tetap dengan kebiasaan sarungan.

Menyebut mereka yang sudah tidak lagi berada di dalam pesantren sebagai santri adalah warna lain dari kaum yang identik dengan kesederhanaan ini. Dalam sistem pendidikan umum biasa dikenal mantan murid atau mantan siswa, sehingga ada istilah turunannya, yakni mantan guru. Di dunia pesantren tidak mengenal istilah mantan. Santri adalah status seumur hidup, demikian juga dengan guru, yang biasa disebut sebagai kiai.

Seorang santri, meskipun sudah lulus dari pondok pesantren tetap dianggap sebagai santri, terutama di mata kiai pengasuh pondok pesantren tempat mereka menimba ilmu.

Meskipun pesantren menjadi lembaga yang teguh memegang tradisi keilmuan dan akhlak, bukan berarti tidak mengikuti perkembangan zaman. Banyak pesantren yang responsif dengan perkembangan di luar institusi itu, sehingga menghasilkan lulusan yang setelah kembali ke masyarakat, mereka tidak hanya mampu menjadi guru ngaji atau ustaz. Santri, masa kini sudah bertransformasi menjadi sosok yang berkiprah dimana-mana dan bisa diterima di lingkungan yang lebih luas.

Santri masa kini adalah golongan yang tidak lagi minder untuk masuk ke berbagai bidang kehidupan. Pergaulan santri sangat luas, pengetahuannya tak terbatas, dan kiprahnya di berbagai bidang juga sangat diperhitungkan. Santri juga mampu masuk ke dunia profesional.

Baca juga: Menag minta santri dan pesantren jadi pelopor transformasi sosial

Baca juga: Pesantren Award jadi momentum penguatan tradisi dan modernitas santri

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

Rekomendasi lain

  • Related Posts

    Pramono Yakin Tak Semua Pedagang Daging Mogok Berjualan,

    GUBERNUR Jakarta Pramono Anung mengatakan sebagian pedagang daging di ibu kota tetap akan berjualan meski asosiasi pedagang daging berencana mogok berjualan pada 22–24 Januari 2026. Pramono mengatakan asosiasi pedagang daging…

    MBG Tetap Ada Selama Ramadan, PAN: Jangan Mudah Basi-Distribusi Fleksibel

    Jakarta – Kapoksi Komisi IX DPR Fraksi PAN DPR RI Ashabul Kahfi setuju program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun Ashabul mengatakan pelaksanaannya harus disesuaikan dengan…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *