
Pemerintah perkuat pengambilan keputusan berbasis data dengan AI
- Jumat, 29 Agustus 2025 15:16 WIB
- waktu baca 3 menit

Penguasaan AI memperkuat kedaulatan teknologi, ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, pertahanan negara, perlindungan data
Jakarta (ANTARA) – Pemerintah memperkuat arah kebijakan pemanfaatan Akal Imitasi (Artificial Intelligence/AI) dalam pengambilan keputusan berbasis data atau data-driven policy.
Langkah ini ditempuh melalui Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020–2045 yang menitikberatkan pada aspek etika dan kebijakan, pengembangan talenta, infrastruktur dan data, serta riset dan inovasi industri.
Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan bahwa pemanfaatan AI kian penting di tengah pesatnya transformasi digital global.
“Penguasaan AI memperkuat kedaulatan teknologi, ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, pertahanan negara, perlindungan data dan kemandirian strategis di kancah global,” ujar Susiwijono
Maka dari itu, pemerintah menggelar Kick Off Pelatihan dan Webinar AI GARUDA (Gerakan AI untuk Resiliensi dan Kedaulatan Nasional), Kamis (28/8) secara hibrida.
Acara tersebut diikuti 1.539 peserta yang berasal dari kementerian/lembaga, perguruan tinggi, serta mahasiswa. Sebanyak 150 peserta hadir secara luring, sedangkan lebih dari 1.389 lainnya mengikuti secara daring.
Kepala Biro Umum dan Sumber Daya Manusia Kemenko Perekonomian Hari Nugroho menjelaskan, pelatihan kali ini mengambil tema AI dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi: Data-Driven Policy dan Market Insight.
“Tema ini sangat relevan dengan kondisi saat ini di kementerian, lembaga, maupun kampus, dalam rangka membuat keputusan dan kebijakan yang berbasis data yang akurat serta adaptif terhadap tantangan global,” jelas Hari.
Berbagai kajian global turut menegaskan potensi besar AI bagi perekonomian.
Studi PwC (2024) memproyeksikan kontribusi AI pada ekonomi global mencapai 15,7 triliun dolar AS pada 2030, terdiri dari 6,6 triliun dolar AS peningkatan produktivitas dan 9,1 triliun dolar AS pertumbuhan konsumsi.
Sementara AT Kearney (2020) memperkirakan tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 1 triliun dolar AS di Asia Tenggara, dengan kontribusi Indonesia mencapai sekitar 40 persen atau 366 miliar dolar AS.
Indonesia kini tercatat sebagai pasar AI terbesar keempat di Asia dengan nilai sekitar 70,6 miliar dolar AS atau 6,4 persen dari total pasar regional.
“Program GARUDA menjadi inisiatif yang baik sekali, tujuannya jelas yakni untuk memperkuat ketahanan nasional lewat pemanfaatan AI, untuk menghadapi berbagai ancaman dan tantangan masa depan,” ujar Susiwijono.
Ia menerangkan, optimalisasi AI sejalan dengan Visi Indonesia Emas 2045 yang mana ekonomi digital ditetapkan sebagai motor pembangunan guna meningkatkan daya saing nasional dan memperkuat resiliensi di tengah dinamika global.
“Indonesia bertekad bukan hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengembang solusi AI inovatif, yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal maupun kebutuhan global,” tutup dia.
Baca juga: Google Cloud perkuat dukungan untuk startup AI di Asia
Baca juga: Google Cloud: Membuat AI mudah bagi semua orang jadi tujuan penting
Baca juga: Pemerintah ajukan CPO, kakao, kopi tak dibebani tarif impor dari AS
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Komentar
Berita Terkait
Rekomendasi lain
Potong kuku malam hari, bolehkah?
- 23 Juli 2024
Daftar bansos yang akan cair pada September 2024
- 2 September 2024
Rekomendasi daftar film bioskop Indonesia terbaru 2024
- 16 September 2024
Gaji pokok PNS Gol III 2024
- 7 Agustus 2024
Cara aktifkan M-Banking BSI yang terblokir tanpa ke bank
- 19 Februari 2025
Sudah mulai cair, ini cara cek penerima dana PIP Desember 2024
- 3 Desember 2024
Pahami algoritma agar konten TikTok masuk FYP
- 13 Oktober 2024