Pakar jelaskan fenomena maraknya publik figur peroleh gelar doktor

Pakar jelaskan fenomena maraknya publik figur peroleh gelar doktor

  • Rabu, 23 Oktober 2024 10:02 WIB
Pakar jelaskan fenomena maraknya publik figur peroleh gelar doktor
Dosen Cultural Studies Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) Radius Setiyawan. (ANTARA/Dokumen pribadi)

Dalam konteks pendidikan, usaha yang dilakukan oleh beberapa publik figur merupakan upaya untuk memperkuat kapital budaya

Surabaya (ANTARA) – Dosen Cultural Studies Universitas Muhammadiyah Surabaya Radius Setiyawan menjelaskan fenomena maraknya publik figur (artis, pengusaha dan politisi) memperoleh gelar doktor, baik doktor honoris causa (HC) maupun doktor yang dicapai melalui proses akademik.

“Fenomena di atas merupakan upaya individu untuk memperkuat pengaruh dalam struktur sosial di masyarakat,” kata Radius di Surabaya, Rabu.

Radius menjelaskan seorang sosiolog terkemuka, Bourdieu menyatakan bahwa untuk memperkuat posisi diri di masyarakat seseorang harus memiliki kapital. Kapital ekonomi meliputi kekayaan, sumber daya fisik, dan instrumen produksi yang dimiliki individu.

Kapital budaya dipahami sebagai akses individu terhadap pendidikan dan posisi mereka dalam struktur sosial. Sementara itu kapital sosial dipahami sebagai akses jaringan dan kapital simbolik merupakan pengakuan sosial yang menghasilkan kekuasaan simbolik.

Baca juga: FEB UI: Bahlil telah terbitkan artikel syarat kelulusan di jurnal lain

“Dalam konteks pendidikan, usaha yang dilakukan oleh beberapa publik figur merupakan upaya untuk memperkuat kapital budaya,” ujar Radius.

Dia memaparkan bahwa kapital budaya merupakan aset sosial yang dapat memengaruhi akses individu terhadap pendidikan dan posisi mereka dalam struktur sosial.

Fenomena di atas, kata Radius menegaskan betapa arena pendidikan menjadi ruang penting. Apa yang dilakukan oleh para publik figur merupakan hal yang wajar dan normal.

Tetapi akan menjadi masalah ketika dalam ptaktiknya menujukan gejala deotonomisasi dalam pendidikan. Meraih gelar akademik tidak lagi dibutuhkan modal spesifik yang ketat dan serius.

Modal sosial dan ekonomilah yang memegang peranan penting.

“Bisa jadi sedang terjadi konversi atau pertukaran modal ekonomi untuk mendapatkan modal budaya. Hal tersebut akan semakin mengukuhkan dominasi aktor dalam arena sosial. Ketika hal tersebut terjadi, bisa jadi akan mengancam ekosistem pendidikan kita. Kondisi yang tentu mengkhawatirkan,” kata Radius.

Baca juga: Mantan Dandim Jakut sampaikan keharuan atas kado gelar doktor
Baca juga: Kesaksian Dirut ANTARA untuk kontribusi doktor Nina Kurnia Dewi

 

Pewarta: Willi Irawan
Editor: Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2024

Komentar

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Berita Terkait

  • Related Posts

    Praka Farizal Akan Dimakamkan di TMP Giripeni

    PIHAK keluarga Praka Farizal telah berembug dan bersepakat untuk memakamkan almarhum di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giripeni, Wates, Kulon Progo setelah melalui musyawarah keluarga. Prajurit asal satuan Yonif 133/JS Brigif…

    Polemik Pencabutan Izin SMK IDN Dilaporkan ke Ombudsman

    BELASAN orang tua siswa SMK IDN Boarding School Bogor mendatangi Ombudsman RI untuk menindaklanjuti laporan pengaduan yang diajukan pada 12 Maret 2026. Ketua Komite SMK IDN Boarding School Bogor Eko…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *