NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | KupasOnline | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | Newsroom | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat JetSeo

Rakernas Gapensiska: Atasi Kekurangan Pasokan Daging Bisa Lewat Integrasi Sapi-Kelapa Sawit - InfoSAWIT

featured image

InhuPost, BOGOR – Sampai saat ini pasokan daging sapi di Indonesia baru memenuhi 460 ribu ton angka tersebut mampu mengimbangi kebutuhan konsumsi daging di Indonesia yang mencapai 730 ribu ton atau masih terdapat defisit sekitar 38%. Sampai saat ini kekurangan pasokan kebutuhan pasokan daging yang mencapai 270 ribu ton masih didapat dari kegiatan impor.

Diungkapkan  Direktur Eksekutif Gapuspindo (Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia) Joni Liano, sejatinya defisit pasokan daging tersebut bukan berarti produksi daging nasional menurun, melainkan laju pertumbuhannya belum mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan daging nasional.

“Pertumbuhan produksi daging masih rendah, belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi daging yang terus meningkat setiap tahunnya,” kata Joni dalam Rapat Kerja Nasional Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (GAPENSISKA) yang dihadiri InhuPost, di Bogor, Kamis, (22/12/22).

BACA JUGA: Pabrik Mini Minyak Goreng Sawit Resmi Launching di Bunex 2022

Lebih lanjut tutur Joni, untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia diperlukan cara yang ekstrem, atau luar biasa. Salah satunya dengan cara integrasi sawit dengan sapi. Alasannya, Indonesia memiliki lahan kebun sawit seluas 16,3 juta hektar.

“Perlu cara ekstrem agar tercapai cita-cita swasembada daging. Integrasi sawit sai salah satunya. Luas kebun sawit yang mencapai 16 juta hektar, menyediakan pakan yang berlimpah,” katanya.

Joni mengakui, integrasi sawit sapi masih menghadapi berbagai kendala, diRedaksi Posnya dari perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sebab itu perlu political will yang kuat dalam mendorong penerapan integrasi sawit sapi. Menurut Joni, sebagian perkebunan kelapa sawit masih beranggapan sulitnya pasar daging sapi.

BACA JUGA: Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Masih Naik, Isu Banjir Jadi Pendorong

“Padahal, kita masih defisit 38 persen daging sapi. Sehingga anggapan sulit mencari pasar kurang tepat. Gapuspindo siap menyerap untuk sementara,” jelas Joni.

Sementara Ketua Umum GAPENSISKA Joko Iriantono mengatakan, beberapa ahli memprediksi tahun depan dunia akan dilanda resesi, sehingga perlu menjaga ketahanan pangan. Indonesia cukup beruntung dengan memiliki komoditas kelapa sawit yang bisa menjadi modal yang baik.

“Perkebunan kelapa sawit yang luas, selain mampu menyediakan minyak makan dan produk turunan yang lain, bisa juga menjadi ladang pemgembalaan yang luas untuk sapi. Integrasi Sapi Kelapa Sawit (SISKA) menjadi solusi yang baik untuk turut menjaga ketahanan pangan dengan penyediaan daging yang berkualitas dan cepat,” kata Joko.

BACA JUGA: Enam Keuntungan Saat Menerapkan Integrasi Sapi-Kelapa Sawit

Menurut Joko, pengembangan SISKA secara bertahap terus dilakukan dengan bekerjasama dengan petani plasma dan swadaya di seluruh Indonesia.

“SISKA merupakan mannequin peningkatan produksi daging sapi yang efektif. Kami berharap stakeholder industri perkebunan sawit dan peternakan bisa membantu pengembangan konsep konsep integrasi sawit sapi yang lebih maksimal,” katanya.

Irfani Darma dari Indonesia Australia Crimson Meat & Cattle Partnership menjelaskan, Partnership atau kerjasama Redaksi Pos Indonesia dan Australia untuk mendukung ketahanan pangan di sektor daging merah dan sapi, serta akses ke rantai pasok global melalui perdagangan dan lingkungan investasi.

BACA JUGA: Mentan SYL Targetkan Rp 100 Triliun Untuk Ekspor Perkebunan Indonesia

“Partnership dimulai pada 2013 dan akan berlangsung hingga tahun 2023. Pendanaan senilai AUD $ 60 juta dari Pemerintah Australia dan kontribusi dari para mitra proyek,” kata Irfani.

Menurut Irfani, kerja sama ini perlu dikembangkan, tidak hanya authorities to authorities, tetapi juga busines to bussines, bahkan hingga of us to of us. Para praktisi yang bergerak di bidang peternakan perlu melakukan upaya strategis untuk membantu meningkatkan produktivitas sapi di Indonesia.

Pelatihan manajemen pakan sapi sangat relevan dan tepat untuk para praktisi atau pihak yang bertanggung jawab di bidang pakan dan feedlot. Oleh karena itu, pelatihan didesain sedemikian rupa untuk menemukan solusi praktis untuk meningkatkan kinerja produksi dan reproduksi melalui peningkatan manajemen pakan,” ujarnya.

BACA JUGA: Indonesia dan Uni Eropa Sepakat Akselerasi  Perundingan I-EU CEPA

Sementara itu, Direktur Pakan Kementerian Pertanian Nur Sapta Hidayat menjelaskan, sejatinya Indonesia juga memiliki ladang penggembalaan ternak sapi yang cukup luas lebih 16 juta hektar yang tertutupi oleh perkebunan kelapa sawit.

Menurut Nur Sapta, kunci dari peternakan sapi adalah soal efisiensi dalam pakan. Semua itu bisa dilakukan di perkebunan kelapa sawit yang menyediakan pakan berlimpah untuk sapi.

“Kalau setiap hektar kebun sawit dapat digunakan memelihara 1 ekor sapi, maka akan ada 16 juta ekor sapi. Ini sudah mampu memenuhi kebutuhan daging seluruh rakyat Indonesia,” kata Nur sapta.

BACA JUGA: Dorab Mistry: Pasokan Minyak Sawit di 2023 Akan Semakin Ketat

Untuk itu, Nur Sapta berharap, SISKA bisa menjadi salah satu avenue draw nasional pengembangan sapi nasional. Sehingga dalam waktu dekat Indonesia mampu berswasembada. “Dengan pengembangan sapi yang efisien dan berkualitas maka swasembada daging nasional akan cepat tercapai,” tandasnya. (T2)

Dibaca : 525

Dapatkan exchange berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari InhuPost.com. Mari bergabung di Grup Telegram “InhuPost – Recordsdata Update”, caranya klik link InhuPost-Recordsdata Update, kemudian join. Anda harus set up aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.