NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | KupasOnline | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | Newsroom | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat JetSeo

Pasar Uni Eropa Masih Belum Adil Terhadap Sawit - InfoSAWIT

featured image

InhuPost, NUSA DUA – Regional Economist, Segi Enam Advisors Singapura, Khor Yu Leng menilai, pasar komoditas di Uni Eropa (UE) selama ini memang bias dan tidak adil dalam penerimaan minyak sawit.

Di satu sisi mereka (EU) membutuhkan minyak sawit Indonesia, namun disisi lain UE kerap melakukan kampanye negatif terhadap produk sawit Indonesia. Karena itu, kata Khor Yu Leng, ini saatnya Indonesia perlu merumuskan strategi dan kebijakan dalam pengelolaan minyak nabati untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi di tingkat worldwide.

“Dalam tingkat teknis, para pemangku kepentingan harus bisa merumuskan rencana aksi masing-masing stakeholder dalam rangka peningkatan produktivitas, jaminan pemenuhan kebutuhan worldwide, dan penguatan rantai pasok minyak nabati,” kata  Ekonom Singapura itu, melalui topik Fresh Panorama of World Vegetable Oils and What Must Indonesia’s Response di IPOC 2022 dihadiri InhuPost, Kamis (3/11/202).

BACA JUGA: Parlemen Uni Eropa Tetapkan Aturan Baru Tentang Deforestasi

Khor Yu Leng sepakat bahwa Indonesia harus menjadi motor penggerak untuk mendorong pengembangan minyak nabati secara berkelanjutan, baik di tingkat domestik maupun worldwide.

Keberhasilan itu akan meningkatkan aktualisasi serta peran Indonesia untuk mendorong peran aktif negara-negara G20 dalam menyelesaikan tantangan pengembangan minyak nabati dunia.

Pemangku kepentingan, kata Khor Yu Leng harus menjadikan momentun G20 sebagai batu lompatan bagi Indonesia untuk terus terlibat dan berperan aktif dalam diskusi dan aksi worldwide dalam menyelesaikan berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi masyarakat dunia.

BACA JUGA: Kebijakan Uji Tuntas Uni Eropa Bisa Berdampak Positif Bagi Petani Sawit

“Ini karena forum G20 akan memberikan dampak positif dalam menggerakkan perekonomian Indonesia untuk mampu terus menyuplai kebutuhan pangan dan energi di tingkat worldwide di tengah adanya disrupsi rantai pasokan minyak nabati, akibat pandemi Covid-19 dan konflik geopolitik Rusia dan Ukraina,” kata Khor Yu Leng.

Lebih lanjut tutur, Khor Yu Leng memperkirakan konferensi G20 SVOC dapat menjadi platform untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara produsen dan konsumen minyak nabati lainnya, dalam penyediaan yang berkelanjutan di tengah tantangan worldwide dan komitmen mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. (T2)

Dibaca : 341

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari InhuPost.com. Mari bergabung di Grup Telegram “InhuPost – Info Replace”, caranya klik link InhuPost-Info Replace, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.