featured image

Jakarta (Redaksi Pos) – Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) dr. Rossalina Lili, Sp.KJ mengatakan berkomunikasi dengan pasangan sebaiknya jangan dilakukan saat emosi sedang tidak baik karena akan membawa dampak buruk dalam hubungan.

“Guidelines saya, jangan pernah berkomunikasi dengan pasangan saat emosi kita sedang tidak baik, saat kita dalam keadaan sangat frustrasi dan terluka, karena hasilnya tidak akan baik,” ujarnya dalam acara bincang-bincang mengenai kesehatan mental yang digelar dauntless diikuti di Jakarta, Kamis.

Lili yang bergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) itu menjelaskan, di dalam otak manusia terdapat bagian yang bernama amigdala, yang berfungsi mendeteksi bahaya. Saat bertemu binatang buas, misalnya, amigdala akan aktif dan membuat seseorang mencari segala cara untuk menyelamatkan diri dari bahaya.

Baca juga: Psikolog: Konflik berlarut dengan pasangan bisa picu depresi

Namun, menurut Lili, amigdala yang ada di otak manusia ternyata tidak hanya aktif saat seseorang bertemu binatang buas, tetapi juga saat berkonflik dengan siapapun termasuk pasangan.

“Misalnya, pasangan kita sudah mulai bicara ‘kamu ini gimana sih, enggak perhatian sama aku’ dan lain sebagainya, bisa saja amigdala kita aktif. Akibatnya, reaksinya adalah fight or flight,” kata Lili.

“Kalau reaksinya flight ya misalnya meminta maaf. Tapi kalau fight reaksinya ya dia akan balas menyerang misalnya dengan bilang ‘kamu pikir kamu doang yang merasa enggak diperhatikan, kamu enggak tahu pekerjaan aku gimana’ dan lain-lain. Kata-kata ini akan membuat amigdala istrinya juga aktif, lalu menyerang balik lagi. Enggak akan berhenti saling menyerang,” katanya.

Baca juga: Pentingnya menghargai proses dalam pengembangan jiwa-raga diri

Untuk itu, saat berkomunikasi atau mengutarakan keluhan dengan pasangan, menurut Lili, suami dan istri harus sama-sama dalam emosi yang baik dan terhubung dengan nilai terdalam masing-masing.

“(Nilai terdalam) ini entah cinta mendalam kita, misi kita bersama sebagai keluarga, kita merasa punya tujuan yang sama, saling melengkapi. Kemudian pengampunan, kesabaran, humor. Masing-masing orang itu berbeda (nilai terdalamnya),” tutur dia.

Oleh karena itu, lanjut Lili, penting sekali bagi setiap orang untuk mengenali nilai terdalam diri masing-masing karena akan menjadi kekuatan dan modal dalam menghadapi konflik. Selain itu, juga penting untuk memiliki kemampuan membaca situasi sebelum berkomunikasi dengan pasangan.

Baca juga: Psikolog: Orang dengan masalah kesehatan mental butuh dukungan

“Kapan saja, sih, kita bisa membicarakan masalah ini? Apakah saat dia sedang santai, bangun tidur, atau saat makan? Kita harus cerdas, oh ternyata kalau dia lagi makan makanan favoritnya enak, nih, mau ngomongin apapun. Jadi harus bisa membaca situasi,” kata Lili.

Pewarta: Suci Nurhaliza

Editor: Bambang Sutopo Hadi

COPYRIGHT © Redaksi Pos 2022

Baca Juga :