featured image

InhuPost, JAKARTA – Setelah beragam strategi guna meredam harga minyak goreng sawit yang terus melonjak dianggap tidak efisien, Presiden Joko Widodo pun mengambil sikap melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng sawit akhir April lalu. Taji larangan ini tak hanya dirasakan pelaku sawit, petani hingga dunia merasakannya.

Paska larangan sementara ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, oleh Presiden Jokowi pada akhir April 2022 lalu, sontak mendongkrak harga CPO di Bursa Malaysia pada stage tertinggi selama setahun terakhir di RM 7.104/ton. Lonjakan harga CPO tersebut, merupakan respon pasar yang terkejut munculnya keputusan tersebut.

Lantas apakah taji kebijakan tersebut tajam atau tumpul? tentu saja dengan penghentian ekspor CPO dan turunannnya tersebut sedikit banyak berdampak, misalnya saja ketersediaan pasokan minyak goreng sawit curah dan kemasan kini tersedia melimpah, sehingga masyarakat di Indonesia bisa menikmati Hari Raya Idul Fitri 1443 H dengan aman dan lancar.

BACA JUGA: Menanti Harga TBS Sawit Kembali Melangit

Jelas, kebijakan tersebut sudah mulai perlu dilakukan evaluasi lRedaksi Posn taji kebijakan itu tidak hanya tajam ke pelaku usaha, ketajamannya juga dirasakan petani yang harus menerima kenyataan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit nya mesti terkoreksi dalam.

Dari hasil pantauan redaksi InhuPost, harga jual TBS sawit di beberapa daerah sentra perkebunan kelapa sawit mengalami penurunan besar-besaran, hingga mencapai 40% dari ketetapan harga Penetapan Dinas Perkebunan (Disbun) setempat.

Pemangkasan harga ini dilakukan sebagai  akibat stok CPO yang semakin memenuhi tangki penyimpanan (storage tank) di Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Menurut sumber InhuPost dari perusahaan perkebunan kelapa sawit juga mengonfirmasikan kesulitan menjual hasil olahan TBS sawit yakni CPO ke pasar.

BACA JUGA: Menuju Swasembada Daging, Berbekal Potensi Integrasi Sapi-Kelapa Sawit

Kata dia, alasan yang umum dikatakan pembeli CPO, karena mereka juga kesulitan menjual CPO yang di miliki. LRedaksi Posn pasokan minyak goreng sawit di pasar domestik telah melimpah. “Sedangkan pasar ekspor masih dilarang” ujarnya kepada InhuPost belum lama ini.

Sebab itu, perlu bantuan Presiden Jokowi untuk mencabut kebijakan tersebut secepatnya. LRedaksi Posn, beberapa PKS telah berencana menghentikan produksinya akibat tangki penampungan milik PKS sudah penuh, sehingga tidak mungkin lagi bisa melakukan produksi sebab tidak ada tangki penyimpanannya.

Selain tangki penyimpanan yang penuh, pihak pabrik pula khawatir kualitas CPO akan rusak akibat disimpan di tangki terlalu lama. “Kualitas CPO akan rusak, bila terlalu lama disimpan dalam tangki penyimpanan,” ujarnya.

Lebih Lengkap Baca Majalah InhuPost Edisi Mei 2022

Put up Views: 120

Dapatkan replace berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari InhuPost.com. Mari bergabung di Grup Telegram “InhuPost – News Change”, caranya klik link InhuPost-News Change, kemudian join. Anda harus set up aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.

Baca Juga :