featured image

InhuPost, JAKARTA – Saat ini industri kelapa sawit nasional sedang dihadapkan pada fluktuasi harga yang sangat cepat, bila di awal tahun harga minyak sawit mentah (CPO) world tercatat melesat tinggi, dan pelaku sawit baik pengusaha dan petani sawit kala itu hepi lRedaksi Posn memperoleh keuntungan berlipat dari naiknya harga minyak sawit world.

Peningkatan harga CPO world ditengarai lRedaksi Posn seretnya perdagangan minyak bunga matahari dari Ukraina, lRedaksi Posn negara tersebut sedang dilanda perang dengan Rusia. Mengakibatkan pasokan minyak nabati di dunia timpang, membuat minyak sawit jadi pilihan dan mendorong harga minyak sawit lebih tinggi, bahkan sempat melampaui harga minyak kedelai.

Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar dunia tercatat pernah mencapai harga tertinggi sepanjang sejarah mencapai RM 6.632 (US$ 1.506,25) per ton. Namun demikian dengan melambungnya harga CPO di tingkat world telah berdampak terhadap melonjaknya harga minyak goreng sawit yang memaksa pemerintah Indonesia melakukan kebijakan diluar kebiasaan yakni menyetop sementara pasokan CPO dan turunannya pada perdagangan world.

Akhir April 2022 Presiden Joko Widodo resmi menerapkan kebijakan pelarangan ekspor CPO dan turunannya dengan harapan pasokan CPO di dalam negeri akan terpenuhi dan harga minyak goreng sawit bisa kembali traditional.

Belum juga harga minyak goreng sawit kembali traditional, kebijakan itu malah dampak terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit petani yang kian melorot, lRedaksi Posn pabrik kelapa sawit tak mau lagi membeli TBS sawit petani dengan alasan tangki CPO mereka telah penuh karena keran ekspor belum traditional.

Apa mau dikata, harga minyak sawit sudah terlanjur melorot, harga TBS sawit petani pun belum kembali traditional, masa tingginya harga minyak kelapa sawit telah lewat, apalagi hingga akhir Juni 2022 lalu, harga CPO terus melorot tajam mencapai RM 4.922 (US$ 1.117,42) per ton atau terdapat penurunan sekitar 22%, dibandingkan pada saat harga CPO tertinggi.

Melansir Reuters, kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Oktober 2022 di Bursa Malaysia Derivatives Change hanya dikenai harga RM 3.777 (US$ 849,15) per ton pada awal perdagangan.

Kondisi merosotnya harga CPO ini rupanya berdampak pada harga TBS Sawit petani Indonesia, sebab itu pemerintah pada pertengahan Juni 2022 lalu lalu resmi meniadakan Pungutan Ekspor (PE) yang dikumpulkan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), dengan alasan supaya bisa mengangkat harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit milik petani, seuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 115/PMK.05/2022.

Tidak itu saja sinyal masih rendahnya harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit produksi petani di sejumlah wilayah sentra perkebunan kelapa sawit langsung ditangkap Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Langkah cepat pun dilakukan Luhut dengan mendorong Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan untuk mempercepat ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan bahan baku minyak goreng sawit. Caranya dengan dengan menaikkan rasio angka pengali ekspor CPO dan bahan baku minyak goreng.

Nah, untuk lebih lengkapnya pembaca budiman bisa melihatnya pada Rubrik Fokus Majalah InhuPost Edisi Juli 2022. Selain itu pada Rubrik Teropong kami juga akan membahas mengenai upaya pemerintah melakukan uji DNA untuk bibit sawit yang akan disalurkan ke petani penerima program Peremajaan sawit Rakyat (PSR). (T2)

Dapatkan replace berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dari InhuPost.com. Mari bergabung di Grup Telegram “InhuPost – News Update”, caranya klik hyperlink https://t.me/inhu_post, kemudian join. Anda harus set up aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS. . . . Dapatkan majalah InhuPost berbentuk digital (e-magz) di hyperlink InhuPost retailer atau berlangganan.

Baca Juga :